Iran Resmi Tutup Selat Hormuz, Masa Berlaku Tak Ditetapkan
Teheran, Apaberita — Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran secara resmi mengumumkan penutupan Selat Hormuz untuk seluruh lalu lintas pelayaran internasional, tanpa memberikan kejelasa...
Teheran, Apaberita — Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran secara resmi mengumumkan penutupan Selat Hormuz untuk seluruh lalu lintas pelayaran internasional, tanpa memberikan kejelasan mengenai kapan jalur strategis itu akan kembali dibuka. Keputusan tersebut disampaikan langsung oleh Panglima Angkatan Laut IRGC, Laksamana Muda Alireza Tangsiri, dalam konferensi pers di Tehran pada Senin (15/6) pagi waktu setempat.
Dalam pernyataannya, Laksamana Tangsiri menegaskan bahwa langkah ini diambil berdasarkan instruksi Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran dan merujuk pada ketentuan hukum internasional yang memberikan hak bagi negara pantai untuk mengamankan wilayah perairannya. “Kami menyatakan bahwa mulai pukul 08.00 WIB, seluruh perlintasan kapal komersial maupun militer di Selat Hormuz dihentikan. Durasi penutupan belum ditetapkan, dan akan dievaluasi sesuai perkembangan ancaman terhadap kedaulatan Republik Islam Iran,” ujarnya.
Alasan dan Landasan Yuridis
IRGC menyebutkan bahwa operasi penutupan ini merupakan bagian dari latihan militer berskala besar bertajuk “Zulfiqar-26” yang telah digelar sejak pekan lalu. Menurut juru bicara IRGC, Brigadir Jenderal Ramazan Sharif, manuver ini melibatkan lebih dari seratus unit kapal perang, puluhan pesawat nirawak, serta sistem rudal pertahanan pantai yang ditempatkan di sepanjang Teluk Persia dan Selat Hormuz. “Latihan ini untuk menguji kemampuan kami dalam memblokade akses musuh. Penutupan ini adalah langkah preventif untuk mencegah setiap potensi infiltrasi atau serangan terhadap instalasi vital negara,” kata Sharif dalam keterangan terpisah.
Pemerintah Iran menekankan bahwa langkah tersebut sah sesuai Pasal 25 Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS) 1982 yang mengakui hak negara kepulauan untuk mengambil tindakan perlindungan terhadap keamanan nasionalnya. Meski demikian, klaim ini segera dipertanyakan oleh para pakar hukum laut internasional yang menilai bahwa Selat Hormuz merupakan selat yang digunakan untuk navigasi internasional, sehingga penutupan sepihak tidak dapat dibenarkan tanpa izin dari Organisasi Maritim Internasional (IMO).
Guncangan Pasar Energi Global
Selat Hormuz adalah jalur sempit selebar 21 mil laut yang menjadi pintu keluar utama minyak dari kawasan Teluk. Data Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) menunjukkan bahwa sekitar 20 persen dari total konsumsi minyak mentah dunia, atau setara 21 juta barel per hari, melewati selat tersebut. Begitu pengumuman penutupan disiarkan, harga minyak mentah jenis Brent langsung melonjak 8,7 persen ke level USD 97,4 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 9,2 persen menjadi USD 93,1 per barel dalam perdagangan sesi Asia.
Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA) langsung mengeluarkan pernyataan tertulis yang menyerukan agar Tehran membuka kembali selat demi stabilitas ekonomi dunia. “Penutupan Selat Hormuz, meski sementara, berpotensi memicu krisis energi global yang dampaknya akan sangat luas, terutama bagi negara-negara berkembang yang masih sangat bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah,” tulis IEA dalam siaran resmi yang diterima Apaberita. Lebih dari 3.200 kapal tanker yang setiap tahun melintasi selat itu kini berada dalam ketidakpastian, dan sejumlah perusahaan pelayaran internasional telah memerintahkan armada mereka untuk menjauh dari area tersebut.
Respons Negara-Negara Teluk dan Barat
Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, sebagai dua eksportir minyak utama yang paling terdampak, langsung menggelar rapat darurat. Menteri Energi Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Salman, menyatakan bahwa negaranya tengah berkoordinasi dengan mitra-mitra OPEC+ untuk mencari rute alternatif, termasuk mengoptimalkan jalur pipa darat yang ada. “Kami memiliki kapasitas ekspor melalui pipa East-West sebesar 5 juta barel per hari, namun itu tidak cukup untuk menggantikan seluruh volume yang biasanya dilewatkan melalui Hormuz,” ujarnya.
Sementara itu, Komando Pusat Angkatan Laut Amerika Serikat (NAVCENT) yang bermarkas di Bahrain mengonfirmasi bahwa Armada Kelima AS telah meningkatkan status siaga ke level tertinggi. Laksamana Muda John Miller, juru bicara NAVCENT, menyebut penutupan itu sebagai “eskalasi berbahaya yang mengancam kebebasan navigasi.” Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan dikabarkan tengah menyiapkan operasi pengawalan internasional untuk membuka kembali selat secara paksa jika diperlukan. Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar sidang darurat pada Selasa (16/6) sore waktu New York untuk membahas situasi ini.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia juga mengambil langkah antisipasi. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi menyatakan bahwa stok BBM nasional dalam kondisi aman untuk 21 hari ke depan, namun pemerintah akan segera menghitung ulang proyeksi impor jika eskalasi berlanjut. “Kami memantau situasi secara intensif. Diversifikasi sumber dan percepatan B30 adalah kunci ketahanan energi kita,” ujarnya.
Penutupan Selat Hormuz membawa dunia ke dalam ketidakpastian geopolitik yang belum pernah terjadi sejak Perang Teluk. Tanpa indikasi kapan blokade ini akan dicabut, pelaku pasar, pemerintah, dan operator pelayaran dipaksa menyusun skenario terburuk. Semua mata kini tertuju pada Tehran, menanti isyarat selanjutnya dari rezim Ayatollah yang terus menegaskan haknya untuk mengontrol jalur air paling vital di muka bumi ini.
Baca juga:
Comments (0)