Gajah Liar di Pelalawan Dipasangi Kalung GPS untuk Mitigasi Konflik
Suasana hutan Tesso Tenggara, Kabupaten Pelalawan, Riau, mendadak hening saat seekor gajah betina liar Sumatra berhasil dibius untuk dipasangi kalung pelac
Suasana hutan Tesso Tenggara, Kabupaten Pelalawan, Riau, mendadak hening saat seekor gajah betina liar Sumatra berhasil dibius untuk dipasangi kalung pelacak GPS pada 6 November 2025. Momen dramatis itu terekam kamera AFP setelah tim Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau berjibaku melakukan prosedur konservasi demi menyelamatkan manusia dan satwa dilindungi sekaligus.
Setelah tim medis satwa memastikan gajah itu tertidur pulas, kalung GPS Collar berwarna mencolok dikalungkan di lehernya. Tak lama kemudian, gajah betina tersebut kembali berdiri dan berjalan pergi bersama anaknya, meninggalkan area konservasi Tesso Tenggara yang merupakan bagian dari lanskap Tesso Nilo, salah satu kantong terakhir gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus).
Sistem Peringatan Dini Atasi Interaksi Negatif
Pemasangan kalung GPS ini bukan sekadar proyek sains, melainkan bagian dari sistem peringatan dini yang sedang dibangun untuk meredakan konflik antara gajah liar dan masyarakat sekitar. Selama bertahun-tahun, gajah Sumatra sering keluar dari hutan dan memasuki lahan pertanian warga, merusak tanaman dan kadang mengancam keselamatan. Data BBKSDA Riau menunjukkan, sejak 2022 setidaknya terjadi 27 insiden interaksi negatif yang memicu kerugian ekonomi dan trauma psikologis bagi petani.
“Dengan kalung ini, kita bisa melacak pergerakan gajah secara real-time. Jika gajah mendekati permukiman, sistem akan mengirimkan notifikasi kepada masyarakat dan petugas untuk segera melakukan penghalauan secara manusiawi,” jelas Kepala BBKSDA Riau, Dr. Hadi Suryanto, dalam konferensi pers usai pemasangan.
Teknologi geofencing yang tertanam dalam kalung GPS memungkinkan penentuan batas virtual. Saat gajah melintasi batas itu, sinyal langsung dikirim ke pusat kendali dan ponsel petugas. Masyarakat di lima desa penyangga Tesso Tenggara pun telah dibekali pelatihan respon cepat dan alat pengusir gajah ramah lingkungan.
Upaya Pelestarian Gajah Sumatra yang Kritis
Gajah Sumatra masuk dalam daftar merah IUCN dengan status Critically Endangered (sangat terancam punah). Populasinya di alam liar diperkirakan tinggal 1.500–2.000 individu, yang terus tergerus oleh deforestasi dan fragmentasi habitat. Tesso Tenggara sendiri merupakan areal konservasi seluas 3.500 hektar yang diharapkan menjadi koridor jelajah gajah antara Tesso Nilo dan Suaka Margasatwa Kerumutan.
Program pemasangan kalung GPS ini adalah hasil kolaborasi BBKSDA Riau dengan LSM konservasi internasional dan perguruan tinggi. Dalam jangka panjang, data pergerakan gajah akan digunakan untuk merancang tata ruang berbasis ekologi dan memperkuat perlindungan habitat alami mereka.
- Target awal 5 ekor gajah dipasangi kalung GPS di lanskap Riau sepanjang 2025-2026
- Teknologi GPS solar-powered, tahan air dan bertahan 3 tahun
- Masyarakat dilibatkan dalam patroli dan pemantauan harian
Harapannya, inovasi ini dapat mengurangi konflik sekaligus memberikan rasa aman bagi warga, tanpa harus mengorbankan keberadaan satwa ikonik kebanggaan Indonesia. Sebab, seperti kata pepatah konservasi, “menyelamatkan gajah berarti menyelamatkan paru-paru dunia.”
[SOCIAL_TWEET]: Seekor gajah liar Sumatra dipasangi kalung GPS di Pelalawan. Teknologi ini jadi andalan sistem peringatan dini agar tak lagi terjadi bentrokan dengan warga. #KonservasiGajah #Sumatra #SatwaDilindungi[SOCIAL_TG]: 🐘📡 Gajah liar di Riau kini pakai kalung GPS! Sistem canggih ini jadi alarm dini kalau gajah dekat permukiman. Keren banget kolaborasi manusia-teknologi buat jaga alam. #GaiaTech
Comments (0)