Ekspor Non-Migas Indonesia Meningkat Signifikan, Catat Rekomendasi Pasar Global

JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa ekspor non-migas Indonesia pada bulan Januari 2025 mencapai USD 18,7 miliar, meningkat 12,3% dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan ini didorong

Ekspor Non-Migas Indonesia Meningkat Signifikan, Catat Rekomendasi Pasar Global

JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa ekspor non-migas Indonesia pada bulan Januari 2025 mencapai USD 18,7 miliar, meningkat 12,3% dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh permintaan kuat dari mitra dagang utama seperti China, Amerika Serikat, dan Jepang, serta komoditas unggulan seperti minyak sawit mentah (CPO), batu bara, dan produk manufaktur. Peningkatan ini menandai optimisme pemulihan ekonomi global dan daya saing produk Indonesia di pasar internasional.

Komoditas Utama dan Kinerja Sektor

BPS mencatat bahwa sektor manufaktur berkontribusi sebesar 72,4% terhadap total ekspor non-migas, dengan produk andalan seperti elektronik, tekstil, dan otomotif. Ekspor CPO dan turunannya naik 18% secara tahunan, didukung oleh permintaan dari India dan Uni Eropa. Sementara itu, ekspor batu bara juga meningkat 8% karena kebutuhan energi global yang masih tinggi. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menyatakan bahwa diversifikasi pasar dan peningkatan nilai tambah menjadi kunci strategi ekspor ke depan.

Kontribusi Sektor Pertanian dan Perikanan

Sektor pertanian dan perikanan juga mencatat pertumbuhan positif. Ekspor kopi Arabika dan kopi Robusta naik 15% dari tahun lalu, terutama ke Eropa dan Timur Tengah. Produk perikanan seperti udang dan tuna juga mengalami kenaikan 10%. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa pemerintah terus mendorong sertifikasi dan standar mutu untuk memenuhi persyaratan pasar global.

Faktor Pendorong dan Prospek ke Depan

Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia, Lana Soelistianingsih, menjelaskan bahwa peningkatan ekspor non-migas ini juga dipengaruhi oleh stabilitas nilai tukar rupiah dan kebijakan insentif fiskal bagi eksportir. “Perbaikan infrastruktur logistik dan digitalisasi layanan ekspor telah mempercepat proses pengiriman,” ujarnya. Prospek pada kuartal pertama 2025 diprediksi tetap positif, meskipun risiko dari perlambatan ekonomi global perlu diwaspadai.

Dampak terhadap Neraca Perdagangan

Ekspor non-migas yang tumbuh positif berdampak pada surplus neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2025 yang mencapai USD 2,9 miliar. Surplus ini merupakan catatan tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Bank Indonesia memperkirakan cadangan devisa akan semakin kuat, mendukung ketahanan ekonomi nasional. Pemerintah berkomitmen untuk terus meningkatkan daya saing produk melalui riset dan inovasi.

Dengan capaian ini, Indonesia optimistis dapat mencapai target pertumbuhan ekspor non-migas sebesar 8% pada tahun 2025, sejalan dengan Program Prioritas Nasional. Masyarakat dan pelaku usaha diharapkan terus memanfaatkan berbagai perjanjian perdagangan bebas yang telah diratifikasi, seperti Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement dan Regional Comprehensive Economic Partnership.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User