Dokter PPDS Meninggal, Dugaan Perundungan Kembali Menghantui Dunia Pendidikan Kedokteran
Nama Adrian Rantung seharusnya bersinar di lorong-lorong rumah sakit sebagai dokter spesialis muda yang merintis karier. Namun pagi itu, tubuhnya ditemukan
Nama Adrian Rantung seharusnya bersinar di lorong-lorong rumah sakit sebagai dokter spesialis muda yang merintis karier. Namun pagi itu, tubuhnya ditemukan tak bernyawa di kamar pribadi, tepat ketika jam tugasnya dimulai. Dokter residen Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) itu menjadi angka terbaru dalam daftar panjang mahasiswa kedokteran yang meregang nyawa di tengah tekanan pendidikan—dan dugaan kuat mengarah pada praktik bullying yang sudah seperti budaya bawah tanah.
Kepergian Adrian sontak memicu gelombang testimoni dari sesama peserta PPDS. Mereka menceritakan bagaimana atmosfer pendidikan yang seyogianya membentuk profesionalisme malah berubah menjadi arena kekerasan psikis: jam jaga tak manusiawi, verbal abuse dari senior, hingga hukuman fisik yang disamarkan sebagai ‘pembelajaran disiplin’.
Tekanan Berlapis: Kurikulum Baja dan Senioritas Toksik
Sistem PPDS di Indonesia memang dikenal keras. Beban akademik, tuntutan klinis, dan penelitian berkelindan dalam waktu superpadat. Namun kondisi ini diperparah oleh relasi kuasa yang timpang antara peserta didik dan staf pengajar. Dari investigasi forum dokter anonim, setidaknya empat dari sepuluh residen mengaku pernah mengalami perundungan verbal, sedangkan dua di antaranya mendapat intimidasi fisik seperti disuruh berdiri berjam-jam di pojok ruangan atau membersihkan toilet tanpa dasar pembelajaran.
“Saya lihat sendiri teman angkatan saya dipanggil dengan sebutan ‘sampah’ di depan pasien. Dia menangis di pantry, tapi tidak ada yang berani membela. Semua takut dianggap tidak loyal atau nanti diperberat jadwal jaganya,” ungkap seorang dokter residen yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Adrian diduga mengalami tekanan serupa. Teman dekatnya menyebut almarhum sempat menunjukkan tanda-tanda depresi dan kerap mengisolasi diri dalam beberapa minggu terakhir. Pihak kepolisian sedang mendalami pesan pribadi dan riwayat digital untuk mengonfirmasi apakah adanya instruksi perundungan yang tertulis dari senior atau konsulen.
Rentetan Kasus yang Tak Kunjung Ditangani Serius
Kematian Adrian bukan yang pertama. Dua tahun sebelumnya, kasus serupa mencuat di universitas berbeda, namun mandek di ranah investigasi karena sumpah diam dan kultur solidaritas korps. Data Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menunjukkan setidaknya enam laporan perundungan masuk setiap tahunnya, tetapi sanksi akademik jarang dijatuhkan. Hanya 11% kasus yang berujung pada tindakan tegas institusi.
Menteri Kesehatan merespons cepat insiden ini dengan menginstruksikan audit menyeluruh pada semua program studi spesialis. Tim inspeksi mendadak dibentuk untuk mewawancarai residen secara anonim dan memeriksa jam kerja, sistem rotasi, serta rekam jejak konsulen dan senior. Bahkan wacana penerapan kamera pengawas di seluruh sudut rumah sakit pendidikan mulai digulirkan.
Fakta Penting Perundungan di PPDS:
- Bentuk perundungan: ejekan verbal, hukuman fisik, isolasi sosial, beban jaga berlebihan.
- Dampak: depresi, gangguan kecemasan, bunuh diri, putus sekolah.
- Kendala pelaporan: budaya diam, intimidasi, tidak ada perlindungan pelapor.
- Langkah Kemenkes: audit program studi, tim inspeksi anonim, dan evaluasi regulasi.
Menanti Reformasi Kultur Pendidikan Kesehatan
Ahli psikologi pendidikan dan organisasi profesi mendesak perubahan paradigma. Model pendidikan militeristik di kedokteran harus diganti dengan pendekatan empatik dan mentoring, bukan pengawalan senioritas destruktif. “Kita tidak bisa melahirkan penyembuh dari luka,” demikian bunyi petisi daring yang sudah ditandatangani lebih dari 50.000 tenaga kesehatan dan mahasiswa.
Kematian Adrian Rantung menjadi cermin getir sekaligus momentum bagi dunia kedokteran Indonesia untuk menyapu bersih praktik perundungan. Jika tidak, ruang-ruang rumah sakit akan terus dihantui oleh suara-suara tak terdengar dari para calon penyelamat yang justru binasa di tangan sistemnya sendiri.
Comments (0)