China Berpacu Kuasai Industri Masa Depan, Amerika Tertinggal
BEIJING — Amerika Serikat disebut tengah "tertidur" dan terseret oleh perdebatan politik remeh-temeh, sementara China melesat cepat menguasai industri-indu
BEIJING — Amerika Serikat disebut tengah "tertidur" dan terseret oleh perdebatan politik remeh-temeh, sementara China melesat cepat menguasai industri-industri masa depan. Peringatan keras itu disampaikan majalah The New Yorker melalui laporan mendalam setebal 12 halaman berjudul "The Future, Made in China" karya jurnalis senior Evan Osnos.
Laporan tersebut menyoroti bagaimana Beijing memanfaatkan kebijakan perdagangan, imigrasi, dan anggaran era Presiden Donald Trump untuk mempercepat lajunya. Bagi China, kemunduran Amerika datang tepat ketika investasi negara, kebijakan industri, dan perencanaan diplomatik selama puluhan tahun mulai memetik hasil.
Taruhan Besar: Dari Kanker hingga Bioteknologi
Menurut Osnos, China berpotensi mengalahkan Amerika Serikat di berbagai lini strategis — bahkan termasuk dalam perlombaan menemukan obat kanker. Kekhawatiran itu bukan sekadar spekulasi, melainkan datang langsung dari jantung industri Amerika sendiri.
Seorang eksekutif Amerika yang diwawancarai Osnos mengungkapkan kegelisahan yang kini melanda Washington. Ia menyebut para pengambil kebijakan cemas bahwa bioteknologi akan menjadi "kendaraan listrik berikutnya" — sektor yang lepas dari genggaman Barat.
"Kita telah menakut-nakuti semua talenta ini sampai kembali ke China. Kalau Anda lihat orang-orang yang menggerakkan industri ini, mereka dulu bekerja untuk raksasa farmasi Barat, atau memimpin departemen di universitas ternama," ujar sang eksekutif dengan nada frustrasi.
Beijing Memamerkan Kekuatan Lewat "Tur Teknologi"
Sebagai bentuk unjuk kekuatan, China kini membuka pintu bagi para influencer, investor, dan komentator Barat melalui program "tech tours". Tur semacam itu melahirkan fenomena yang disebut "infrastructure porn" dan "Chinamaxxing" — kekaguman terhadap kemajuan infrastruktur Negeri Tirai Bambu yang dipamerkan secara masif di media sosial.
Kembali ke Beijing Setelah Satu Dekade
Osnos bukan wajah baru di Beijing. Ia pernah tinggal di ibu kota China itu selama delapan tahun sebagai koresponden asing. Untuk laporan ini, ia kembali selama 10 hari sebagai bagian dari peliputan selama empat bulan. Yang ia temukan adalah kota yang jauh berbeda dari Beijing yang ia tinggalkan pada 2013.
Ibukota itu kini terasa jauh lebih sunyi — sebuah "ketenangan yang janggal" di pusat negara satu partai berteknologi tinggi. Osnos mencatat sejumlah perubahan mencolok dalam kehidupan sehari-hari warga Beijing:
- Kendaraan listrik bergerak nyaris tanpa suara di jalan-jalan kota, mengubah lanskap kebisingan ibu kota secara drastis.
- Warga semakin jarang keluar rumah karena China memiliki pasar e-commerce tersibuk di dunia — hampir semua barang bisa diantar dengan skuter.
- Transaksi nontunai mendominasi sepenuhnya. Sepanjang hari, orang saling memindai kode QR lewat WeChat dan Alipay, yang sekaligus memberi makan algoritma dengan potret pergerakan dan preferensi warga yang kian rinci.
Era Pengawasan: "Rontgen Emosi" Sudah Jadi Nyata
Bagian paling mengusik dari laporan itu adalah pengalaman pribadi Osnos dengan mesin pengawasan China. Ia merasa terus diawasi — karena memang demikian kenyataannya, termasuk secara psikologis.
Di sebuah pameran kecerdasan buatan (AI) di Beijing, Osnos berdiri di depan kios yang melakukan "rontgen emosi" dengan mengukur mikro-gerakan wajahnya. Hasilnya mengejutkan: ia dinilai memiliki 76,67 persen emosi positif dan 23,33 persen emosi negatif, yang terbagi antara rasa takut dan amarah.
Teknologi serupa berpotensi digunakan negara untuk membidik pihak-pihak yang dianggap berpotensi mengganggu stabilitas. Produsen yang sama bahkan membuat versi pemindaian untuk sekolah, yang memberi murid-murid tingkat kewaspadaan berkode warna: merah, kuning, atau biru.
Angka-Angka yang Menegaskan Dominasi China
Data yang dihimpun The New Yorker memperlihatkan betapa jauh China telah melangkah. Negara itu kini memproduksi sekitar 70 persen drone, kendaraan listrik, baterai lithium-ion, dan sel surya dunia. Tak berhenti di situ, China juga mengerahkan robot industri lebih banyak daripada gabungan seluruh negara lain di dunia.
Di bidang kedokteran, China bahkan telah melampaui Amerika Serikat dalam jumlah uji klinis terdaftar — sebuah capaian yang memperkuat kekhawatiran bahwa pusat gravitasi inovasi global sedang bergeser ke timur. Laporan Osnos menjadi pengingat bahwa perlombaan menuju masa depan sudah berlangsung, dan Amerika mungkin baru sadar telah tertinggal di garis start.
[SOCIAL_TWEET]: The New Yorker: China berpacu kuasai industri masa depan sementara AS "tertidur". China kini produksi 70% drone, EV, baterai lithium & sel surya dunia — plus uji klinis medis melampaui Amerika. #China #Teknologi [SOCIAL_TG]: 🚨 The New Yorker: "The Future, Made in China" — China berlari kencang kuasai industri masa depan: 70% produksi drone, EV, baterai lithium & sel surya dunia, robot industri terbanyak, uji klinis medis lampaui AS. Washington cemas biotek jadi "EV berikutnya". Selengkapnya di Apaberita.com
Comments (0)