Sep 17, 2026
Hukum

BUENOS AIRES — Pity Álvarez Absen Sidang Pembunuhan, Psikiater Sebut Pelaku Sadar

Suasana di luar gedung Pengadilan Buenos Aires dipenuhi oleh riuh nyanyian para penggemar setia yang membentangkan spanduk dukungan. Namun, di dalam ruang

BUENOS AIRES — Pity Álvarez Absen Sidang Pembunuhan, Psikiater Sebut Pelaku Sadar

Suasana di luar gedung Pengadilan Buenos Aires dipenuhi oleh riuh nyanyian para penggemar setia yang membentangkan spanduk dukungan. Namun, di dalam ruang sidang yang dingin, kursi terdakwa justru tampak kosong melompong. Cristian "Pity" Álvarez, mantan vokalis dan ikon musik rock Argentina bersama grup band Viejas Locas, secara mengejutkan membolos dari agenda persidangan kesembilan atas kasus pembunuhan yang menjerat dirinya. Pity didakwa atas penembakan fatal terhadap tetangganya sendiri, Cristian "Gringo" Díaz (36), yang terjadi pada Juli 2018 silam.

Ketidakhadiran musisi yang dikenal eksentrik dan penuh kontroversi ini mengejutkan tim jaksa penuntut umum serta keluarga korban. Berdasarkan keterangan dari tim penasihat hukumnya, Pity sengaja mengurung diri dan membarikade kamar penampungannya sebagai bentuk penolakan untuk dihadirkan di persidangan. Kendati terdakwa absen, majelis hakim tetap melanjutkan jalannya persidangan untuk mendengarkan kesaksian krusial dari tim ahli medis dan psikiatri forensik.

Kesaksian Psikiater: Pelaku Memiliki Perilaku Terarah

Fokus utama dalam persidangan kesembilan ini tertuju pada analisis kesehatan jiwa Pity Álvarez. Selama bertahun-tahun, pihak pembela kerap mengupayakan agar Pity dinyatakan tidak dapat dipertanggungjawabkan secara hukum (inimputable) akibat riwayat ketergantungan narkoba dan gangguan psikiatri berat yang diidapnya. Namun, kesaksian dari saksi ahli psikiatri yang dihadirkan di muka sidang justru mematahkan argumen tersebut.

Psikiater forensik menyatakan bahwa saat aksi penembakan terjadi di kompleks perumahan Villa Lugano, Pity menunjukkan kesadaran penuh yang dikategorikan sebagai "conducta dirigida" atau perilaku terarah. Saksi ahli menegaskan bahwa langkah-langkah yang diambil Pity saat dan setelah mengeksekusi korban bukanlah tindakan spontan akibat halusinasi atau kehilangan kendali emosional total.

"Terdakwa memahami dampak dari tindakannya. Keputusannya untuk menembak korban, menyembunyikan senjata api ke dalam saluran pembuangan air, lalu melarikan diri dari tempat kejadian perkara menunjukkan bahwa fungsi kognitif dan kontrol dirinya masih bekerja secara terstruktur pada saat kejadian," ungkap saksi ahli psikiatri di hadapan majelis hakim.

Rekam Jejak Tragedi dan Detail Peristiwa

Tragedi berdarah ini bermula dari perselisihan jalanan pada malam 12 Juli 2018 di kompleks Barrio Samoré, Villa Lugano. Korban, Cristian Díaz, tewas seketika di lokasi kejadian setelah diterjang empat tembakan di bagian kepala dan dada. Usai melancarkan aksinya, Pity melarikan diri bersama kekasihnya dan sempat mendatangi sebuah klub malam sebelum akhirnya menyerahkan diri ke kantor polisi beberapa hari kemudian.

Parameter Kasus Keterangan Ringkasan
Terdakwa Cristian "Pity" Álvarez (Ex-Vokal Viejas Locas)
Korban Jiwa Cristian "Gringo" Díaz (36 Tahun)
Waktu Kejadian Juli 2018
Lokasi Peristiwa Barrio Samoré, Villa Lugano, Argentina
Hasil Analisis Ahli Terbukti memiliki conducta dirigida (kesadaran & perilaku terarah)

Fanatisme Penggemar di Tengah Bayang-Bayang Hukuman

Di balik dinding pengadilan yang sarat dengan fakta hukum yang menyudutkan, fenomena unik terjadi di luar gedung. Puluhan penggemar setianya terus mendatangi area pengadilan untuk melakukan apa yang mereka sebut sebagai "el aguante"—sebuah bentuk kesetiaan dan dukungan moral tanpa batas bagi sang musisi. Bagi para fans, Pity tetaplah sesosok legenda rock yang dipandang sebagai korban dari tragedi kehidupan dan jeratan obat-obatan terlarang.

Namun bagi keluarga korban, keadilan hukum harus tetap ditegakkan tanpa memandang status keartisan pelaku. Ibu dan kerabat Cristian Díaz berharap pengadilan dapat segera memutuskan vonis yang setimpal. Jika terbukti bersalah atas dakwaan pembunuhan tingkat pertama, Pity Álvarez terancam hukuman penjara hingga 25 tahun. Absennya Pity dalam persidangan ini memperpanjang ikhtiar hukum yang sempat membeku lama, sembari publik menanti keputusan akhir dari drama hukum musisi paling kontroversial di Argentina tersebut.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS hendra-wijaya

Editor Politik. Mantan jurnalis cetak dengan spesialisasi politik elektoral. Menulis analisis kebijakan dan reportase parlemen.

Comments (0)

User