BRIN Jamin Keamanan Data Satelit Lampung-1 yang Diluncurkan dari China

JAKARTA, APABERITA — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan keamanan data yang dikirimkan oleh Satelit Hiperspektral Lampung-1 tetap terjaga, meskipun wahana antariksa tersebut diluncurk...

BRIN Jamin Keamanan Data Satelit Lampung-1 yang Diluncurkan dari China

JAKARTA, APABERITA — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan keamanan data yang dikirimkan oleh Satelit Hiperspektral Lampung-1 tetap terjaga, meskipun wahana antariksa tersebut diluncurkan dari luar negeri, tepatnya dari China. Pernyataan ini disampaikan Kepala BRIN Arif Satria dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (24/11/2025), menindaklanjuti prosesi peluncuran yang berlangsung sukses pada akhir pekan lalu.

Arif Satria menegaskan bahwa peluncuran dari China merupakan bagian dari kerja sama internasional yang sah dan telah melalui berbagai kajian mendalam. "Kami memastikan seluruh protokol keamanan data telah diterapkan secara ketat. Meskipun diluncurkan dari China, kedaulatan data tetap berada di Indonesia dan dikelola oleh BRIN sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku," ujarnya dalam rapat koordinasi yang digelar secara hybrid.

Dukungan Teknologi AI untuk Pembangunan Nasional

Satelit Lampung-1 merupakan satelit hiperspektral generasi terbaru yang dirancang untuk mendukung pembangunan berbasis kecerdasan buatan (AI). Dengan kemampuan spektral yang tinggi, satelit ini mampu memetakan sumber daya alam, memantau perubahan lingkungan, serta mendukung sektor pertanian, kehutanan, dan kelautan secara presisi. Data yang dihasilkan akan diintegrasikan ke dalam sistem nasional untuk mempercepat pengambilan keputusan berbasis data.

Dalam keterangannya, Arif Satria menjelaskan bahwa teknologi hiperspektral pada Lampung-1 memiliki keunggulan dibandingkan satelit konvensional. "Satelit ini dapat mendeteksi objek dengan detail yang sangat tinggi, mulai dari kandungan mineral, tingkat kesehatan tanaman, hingga potensi bencana alam. Ini adalah lompatan besar bagi Indonesia dalam memanfaatkan teknologi antariksa untuk kesejahteraan rakyat," jelasnya.

Peluncuran Satelit Lampung-1 dari China dilakukan menggunakan roket Long March 2D dari Pusat Peluncuran Satelit Taiyuan, Shanxi, pada Sabtu (22/11/2025) pukul 09.30 waktu setempat. Prosesi peluncuran disaksikan langsung oleh perwakilan BRIN, Kementerian Komunikasi dan Digital, serta duta besar Indonesia untuk China. Satelit berhasil mencapai orbit sun-synchronous pada ketinggian sekitar 700 kilometer di atas permukaan bumi.

Kerja Sama Internasional dan Transfer Teknologi

Keputusan meluncurkan satelit dari China, menurut Arif Satria, bukan tanpa pertimbangan matang. Ia menyebutkan bahwa China memiliki infrastruktur peluncuran yang andal dan biaya yang kompetitif. "Kami memilih China karena rekam jejak peluncurannya yang sangat baik dan adanya kesepakatan transfer teknologi yang akan memperkuat kapasitas dalam negeri," tegasnya.

Lebih lanjut, BRIN memastikan bahwa kerja sama ini tidak mengorbankan aspek keamanan nasional. Data yang dikirimkan oleh satelit akan melalui proses enkripsi berlapis sebelum diterima di stasiun bumi yang berlokasi di Rumpin, Bogor, dan Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. "Setiap transmisi data dipantau secara real-time oleh tim keamanan siber BRIN yang bekerja sama dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN)," tambah Arif Satria.

Dalam rapat koordinasi tersebut, BRIN juga mengumumkan bahwa satelit ini akan dioperasikan oleh Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN bersama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang kini telah melebur ke dalam BRIN. Tim pengendali misi akan bekerja bergantian selama 24 jam untuk memastikan satelit berfungsi optimal.

Manfaat Strategis untuk Daerah dan Masyarakat

Nama Lampung-1 sendiri, menurut Arif Satria, merupakan bentuk penghormatan kepada Provinsi Lampung yang menjadi lokasi stasiun bumi utama. Pemerintah daerah setempat diharapkan menjadi pengguna pertama data satelit ini untuk pemetaan lahan pertanian dan mitigasi bencana alam. "Kami berharap Lampung-1 tidak hanya menjadi kebanggaan nasional, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat di daerah," ujarnya.

Selain itu, data dari satelit hiperspektral ini akan dimanfaatkan oleh Kementerian Pertanian untuk memantau ketahanan pangan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk mendeteksi deforestasi, serta Badan Informasi Geospasial untuk memperbarui peta tematik nasional. Integrasi data ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi anggaran negara dan mengurangi ketergantungan pada data asing.

Arif Satria menutup konferensi pers dengan menyatakan bahwa BRIN akan terus mengembangkan program satelit berikutnya, termasuk satelit radar dan satelit komunikasi, sebagai bagian dari roadmap antariksa nasional hingga tahun 2040. "Kami berkomitmen untuk membangun kemandirian teknologi antariksa Indonesia secara bertahap, dan Lampung-1 adalah langkah konkret pertama yang akan diikuti oleh misi-misi berikutnya," pungkasnya.

Dengan keberhasilan peluncuran ini, Indonesia resmi memiliki satelit hiperspektral pertama yang mendukung agenda transformasi digital dan pembangunan berkelanjutan. BRIN memastikan bahwa seluruh proses, mulai dari desain, pengujian, hingga operasional, dilakukan sesuai dengan standar internasional dan peraturan perundang-undangan nasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
tania-sari

Reporter Hukum. Meliput Mahkamah Konstitusi, judicial review, dan dinamika legislasi.

Comments (0)

User