Oct 15, 2026
Nasional

Binus @Alam Sutera — AI Berhitung Cepat, Integritas Akuntan Tak Tergantikan

Perkembangan artificial intelligence (AI) di dunia akuntansi kembali menjadi sorotan hangat. Dalam gelaran CPA Days 2026 yang berlangsung di kampus Binus @

Binus @Alam Sutera — AI Berhitung Cepat, Integritas Akuntan Tak Tergantikan

Perkembangan artificial intelligence (AI) di dunia akuntansi kembali menjadi sorotan hangat. Dalam gelaran CPA Days 2026 yang berlangsung di kampus Binus @Alam Sutera, Tangerang, ratusan akademisi, mahasiswa, dan praktisi akuntan publik berkumpul untuk membedah satu pertanyaan mendasar: sejauh mana teknologi dapat menggantikan manusia di meja auditor?

Acara tahunan yang digagas oleh program studi Akuntansi Binus University ini menghadirkan sejumlah pembicara dari kalangan profesional, regulator, hingga praktisi audit. Diskusi tidak hanya berkutat pada otomatisasi laporan keuangan, tetapi juga menyentuh dimensi etika yang selama ini menjadi fondasi profesi akuntan publik.

Ketika Mesin Lebih Cepat Menghitung

Sejak beberapa tahun terakhir, software audit berbasis AI telah mampu melakukan rekonsiliasi ribuan transaksi dalam hitungan detik, mendeteksi anomali, hingga menyusun draf opini awal. Kemampuan itu membuat sebagian kalangan bertanya-tanya apakah profesi akuntan akan tergerus.

Namun, para pembicara di CPA Days 2026 sepakat bahwa AI hanyalah alat bantu. Teknologi canggih sekalipun tidak memiliki kemampuan memahami konteks bisnis secara utuh, apalagi menimbang dilema etis yang kerap muncul di lapangan.

“AI bisa menghitung, tapi AI tidak bisa mempertanggungjawabkan. Pertanggungjawaban itu ada pada manusia yang menandatangani opini,” ujar seorang pembicara dalam sesi panel utama, disambut anggukan peserta.

Pernyataan itu menegaskan bahwa professional judgment—penilaian profesional yang berbasis pengalaman, kehati-hatian, dan etika—tetap menjadi wilayah yang tidak bisa diserahkan kepada algoritma. Seorang auditor dituntut mampu membaca sinyal bahaya yang tidak tertangkap data, seperti konflik kepentingan tersembunyi atau tekanan manajemen terhadap pelaporan keuangan.

Integritas sebagai Kompas di Era Disrupsi

Isu integritas menjadi benang merah sepanjang diskusi. Di tengah derasnya arus otomatisasi, akuntan publik justru dituntut semakin tegas memegang prinsip kode etik. Kejujuran, objektivitas, dan independensi disebut sebagai tiga pilar yang tidak boleh dikompromikan, apa pun teknologi yang digunakan.

Paradoksnya, keberadaan AI bisa memperbesar risiko bila tidak diimbangi integritas. Sistem yang canggih tetap bisa menghasilkan kesimpulan keliru jika data yang dimasukkan sudah dimanipulasi sejak awal. Karena itu, peran auditor sebagai gatekeeper informasi keuangan justru menjadi semakin krusial.

Para peserta yang mayoritas mahasiswa pun diajak melihat peluang karier baru. AI membuka kebutuhan pada bidang audit forensik digital, tata kelola data, hingga pengawasan algoritma. Artinya, alih-alih menghilangkan pekerjaan, teknologi menggeser lanskap profesi ke arah yang lebih analitis.

Menyiapkan Generasi Auditor Masa Depan

CPA Days 2026 juga menjadi ajang bagi Binus @Alam Sutera untuk menegaskan komitmennya mencetak lulusan yang adaptif. Kurikulum akuntansi kini dibarengi dengan literasi data, pemahaman sistem informasi, dan penekanan etika profesi sejak dini.

Harapannya jelas: lahir generasi akuntan yang fasih teknologi sekaligus teguh pada nilai. Di meja auditor, angka memang penting, tetapi kepercayaan publik jauh lebih mahal—dan itu tidak bisa dihitung oleh mesin mana pun.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS putri-anggraini

Fact Checker Politik. Memverifikasi klaim publik, pidato pejabat, dan informasi viral. Anggota jaringan cek fakta Indonesia.

Comments (0)

User