Baharuddin Lopa: Jaksa Agung Paling Jujur yang Mengguncang Indonesia
Biografi lengkap Baharuddin Lopa, dari masa kecil di Tanah Mandar hingga menjadi simbol integritas penegakan hukum Indonesia.
Baharuddin Lopa adalah nama yang tak akan pernah hilang dari ingatan kolektif bangsa Indonesia. Lahir di Desa Pambusuang, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat pada 27 Agustus 1935, Lopa tumbuh di lingkungan sederhana masyarakat Mandar yang dikenal memegang teguh nilai kejujuran dan harga diri. Sejak kecil, Lopa menunjukkan kecerdasan di atas rata-rata. Ia menempuh pendidikan dasar di tanah kelahirannya sebelum melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Minatnya pada hukum tumbuh ketika ia menyaksikan ketidakadilan yang kerap menimpa rakyat kecil di sekitarnya. Lopa kemudian melanjutkan studi ke Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, Makassar, dan lulus dengan predikat memuaskan pada tahun 1962.
\\n\\nKariernya di dunia hukum dimulai sebagai jaksa di Kejaksaan Negeri Makassar. Sejak awal, Lopa sudah menunjukkan karakter yang berbeda. Di tengah budaya korupsi yang mulai merasuk ke tubuh birokrasi, ia tetap teguh pada prinsip kejujuran. Ia menolak segala bentuk suap dan gratifikasi, sebuah sikap yang saat itu dianggap aneh oleh banyak koleganya. Reputasinya sebagai jaksa bersih terus menanjak. Ia dipercaya menjabat berbagai posisi penting, termasuk Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, Kepala Kejaksaan Tinggi Kalimantan Timur, hingga Direktur Jenderal Pembinaan Badan Peradilan Umum di Departemen Kehakiman. Di setiap posisi, Lopa konsisten memberantas korupsi dan menegakkan hukum tanpa pandang bulu.
\\n\\nYang paling fenomenal dari sosok Lopa adalah kesederhanaannya. Saat menjabat pejabat tinggi, ia menolak fasilitas mobil dinas mewah dan memilih kendaraan sederhana. Rumahnya di Jakarta hanyalah sebuah rumah tipe 21 yang jauh dari kesan mewah. Ia bahkan sering menolak kenaikan gaji dan tunjangan yang menjadi haknya. Kesederhanaan ini menjadi kontras tajam dengan gaya hidup para pejabat lainnya. Puncak karier Lopa terjadi pada Juni 2001 ketika Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengangkatnya sebagai Jaksa Agung Republik Indonesia. Pengangkatan ini disambut gegap gempita oleh masyarakat yang mendambakan reformasi di tubuh kejaksaan yang saat itu dikenal sebagai salah satu institusi terkorup di Indonesia.
\\n\\nLopa langsung bergerak cepat. Dalam hitungan hari, ia sudah membongkar berbagai kasus besar dan melakukan perombakan internal yang membuat banyak pihak ketar-ketir. Namun, takdir berkata lain. Pada 3 Juli 2001, hanya sekitar satu bulan setelah dilantik, Lopa meninggal dunia di Jakarta akibat serangan jantung. Ia wafat saat sedang bekerja, menunaikan tugasnya membersihkan kejaksaan. Kepergiannya yang mendadak meninggalkan duka mendalam bagi seluruh bangsa. Presiden Gus Dur sampai menangis di pemakamannya. Sebelum menjabat Jaksa Agung, Lopa juga pernah bertugas sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Arab Saudi.
\\n\\nIa juga dikenal sebagai akademisi yang sering menulis tentang hukum dan keadilan di berbagai media massa. Hingga kini, nama Baharuddin Lopa tetap dikenang sebagai simbol integritas. Namanya diabadikan sebagai nama gedung, jalan, hingga penghargaan. Lebih dari itu, Lopa menjadi tolok ukur moral bagi para penegak hukum di Indonesia. Ia membuktikan bahwa di negeri yang sarat korupsi, masih ada orang yang memilih jalan lurus meskipun harus hidup sederhana dan menghadapi banyak musuh. Kisah Lopa mengajarkan bahwa jabatan bukanlah untuk memperkaya diri, melainkan untuk mengabdi kepada bangsa dan negara.
\\n\\nWarisannya terus hidup, menginspirasi generasi baru penegak hukum untuk berani jujur di tengah arus besar yang mengarah ke sebaliknya.
Yang menarik dari perjalanan hidup Lopa adalah konsistensinya mempertahankan prinsip-prinsip Mandar dalam kehidupan modern. Masyarakat Mandar mengenal konsep "siri' na pacce" — harga diri dan solidaritas — yang menjadi kompas moral dalam setiap tindakan. Bagi Lopa, menjadi jaksa bukan sekadar profesi, melainkan perwujudan dari nilai-nilai luhur leluhurnya. Ia sering mengutip pepatah Mandar: "Malaqbi" yang berarti mulia atau terhormat. Menjadi mulia bukan karena jabatan atau kekayaan, melainkan karena perbuatan baik dan kejujuran. Filosofi inilah yang membuatnya kebal terhadap godaan materi. Ketika rekan-rekannya membangun rumah mewah, Lopa tetap tenang di rumah tipe 21-nya. Ketika yang lain berganti mobil, ia tetap mengendarai kendaraan tuanya. Baginya, kemuliaan sejati tidak diukur dari apa yang dimiliki, melainkan dari apa yang diperbuat untuk orang lain.
\n\nLopa juga dikenal sebagai sosok yang sangat religius. Ia adalah seorang Muslim yang taat, namun tidak pernah menggunakan agama sebagai alat politik atau pencitraan. Ia tidak pernah mengumumkan ke mana ia salat atau berapa kali ia umrah. Kesalehannya bersifat personal dan autentik. Dalam berbagai kesempatan, ia menekankan bahwa agama dan hukum adalah dua sisi mata uang yang sama: keduanya bertujuan menegakkan keadilan. Lopa percaya bahwa jaksa yang tidak jujur bukan hanya melanggar hukum negara, tetapi juga hukum Tuhan. Keyakinan inilah yang membuatnya tidak pernah goyah dalam menghadapi godaan suap — karena ia merasa diawasi bukan hanya oleh atasan atau publik, tetapi juga oleh Tuhan Yang Maha Melihat.
Di luar kehidupan profesionalnya, Lopa memiliki sisi humanis yang jarang tersorot. Ia dikenal sangat peduli pada pendidikan anak-anak kurang mampu. Setiap kali menerima honorarium dari mengajar atau menulis, ia menyisihkan sebagian besar untuk membantu biaya sekolah anak-anak di kampung halamannya di Polewali Mandar. Ia tidak pernah mengumumkan kegiatan filantropinya ini — keluarga dan penerima beasiswanya lah yang kemudian menceritakannya setelah ia wafat. Beberapa anak yang ia bantu kini telah menjadi sarjana hukum, dokter, dan guru — sebuah warisan hidup yang mungkin lebih berharga daripada semua penghargaan formal yang diterimanya. Bagi Lopa, berbagi bukanlah tentang seberapa besar jumlahnya, melainkan tentang seberapa tulus niatnya.
Comments (0)