Sep 16, 2026
Nasional

ASAKI Desak Pemerintah Jamin Pasokan Energi Industri Keramik

Di tengah gemuruh mesin fabrikasi dan tingginya suhu tungku pembakaran (kiln) yang mencapai lebih dari 1.000 derajat Celsius, industri keramik nasional kin

ASAKI Desak Pemerintah Jamin Pasokan Energi Industri Keramik

Di tengah gemuruh mesin fabrikasi dan tingginya suhu tungku pembakaran (kiln) yang mencapai lebih dari 1.000 derajat Celsius, industri keramik nasional kini berada di persimpangan jalan yang sangat krusial. Keberlanjutan nyala api di pabrik-pabrik manufaktur tersebut sangat bergantung pada satu elemen vital: pasokan energi gas bumi yang stabil, berkelanjutan, dan terjangkau. Tanpa adanya jaminan pasokan yang pasti, potensi industri yang telah lama menopang sektor konstruksi dan properti tanah air ini terancam redup di tengah ketatnya arus persaingan global.

Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) secara tegas terus mendorong pemerintah untuk memperkuat dan menjamin pasokan energi nasional. Langkah ini dinilai sebagai urat nadi utama bagi keberlangsungan manufaktur dalam negeri. Pimpinan ASAKI menegaskan bahwa kepastian alokasi energi bukan sekadar masalah operasional harian, melainkan benteng pertahanan paling strategis untuk menjaga daya saing produk lokal di pasar domestik maupun mancanegara.

Tantangan Pasokan Gas dan Efisiensi Biaya Produksi

Dalam struktur manufaktur keramik, energi merupakan komponen biaya terbesar kedua setelah bahan baku utama. Komponen gas bumi menyumbang sekitar 25 hingga 30 persen dari total biaya produksi. Ketika distribusi gas mengalami gangguan atau penyesuaian kuota secara mendadak, efisiensi pabrik dipastikan merosot tajam. Penurunan tekanan gas yang tidak terprediksi berisiko tinggi merusak kualitas pembakaran keramik, memicu cacat produksi massal, hingga mendatangkan kerugian finansial yang signifikan.

Meskipun pemerintah telah meluncurkan skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) sebesar **USD 6 per MMBTU**, implementasi di lapangan masih kerap diwarnai tantangan berupa pembatasan volume alokasi gas di beberapa wilayah pusat industri, khususnya di Jawa Barat dan Jawa Timur. Kondisi ini membuat para pelaku usaha kesulitan beroperasi pada kapasitas maksimal.

Indikator Industri Kondisi Saat Ini Target & Harapan ASAKI
Porsi Biaya Energi Gas 25% - 30% dari Biaya Produksi Stabilitas Harga & Pasokan Kuota 100%
Tingkat Utilitas Pabrik Berfluktuasi (~65% - 70%) Mencapai Optimal (di atas 85%)
Tantangan Utama Pembatasan Kuota Gas & Impor Murah Jaminan Energi & Proteksi BMAD

Serbuan Produk Impor dan Tekanan Pasar Domestik

Dilema kelangkaan pasokan energi ini kian mengkhawatirkan karena terjadi bersamaan dengan derasnya arus produk keramik impor, terutama dari Tiongkok, yang masuk ke pasar nasional dengan harga sangat murah. Ketersediaan energi yang belum terjamin penuh membatasi kemampuan produsen lokal untuk melakukan efisiensi harga secara agresif.

"Kami tidak bisa bertarung secara maksimal di pasar jika di dalam negeri sendiri kami masih dibayang-bayangi ketidakpastian pasokan energi. Kepastian pasokan gas adalah kunci utama agar pabrik tetap berproduksi dan tenaga kerja lokal terlindungi," tegas perwakilan pengurus ASAKI.

ASAKI menggarisbawahi bahwa industri keramik Indonesia sejatinya memiliki daya saing dan potensi ekspansi yang amat besar. Namun, sinergi lintas sektoral antara Kementerian ESDM, PT PGN Tbk, dan Kementerian Perindustrian mutlak diperlukan untuk mewujudkannya. Pelaku industri membutuhkan jaminan kelancaran pasokan gas jangka panjang tanpa hambatan kuota yang merugikan.

Harapan Kepastian Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi

Sektor manufaktur keramik nasional saat ini menyerap lebih dari 150.000 tenaga kerja secara langsung maupun tidak langsung. Selain itu, industri ini memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang sangat tinggi karena mayoritas bahan baku seperti tanah liat (clay) dan feldspar berasal dari kekayaan alam Nusantara. Dengan menjamin keandalan pasokan energi, pemerintah secara langsung mengamankan investasi bernilai triliunan rupiah dan menjaga benteng pertahanan ekonomi nasional.

Kepastian pasokan gas bumi diharapkan mampu mendongkrak kembali tingkat utilitas kapasitas produksi keramik nasional hingga melampaui 85 persen. Jika jaminan energi terwujud dan disinergikan dengan regulasi proteksi pasar yang adil, ASAKI optimistis Indonesia sanggup mempertahankan posisi sebagai salah satu produsen keramik terdepan di Asia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS tania-sari

Reporter Hukum. Meliput Mahkamah Konstitusi, judicial review, dan dinamika legislasi.

Comments (0)

User