Sep 16, 2026
Nasional

AS Kuras Anggaran Rp670 Triliun untuk Operasi Militer Lawan Iran

WASHINGTON — Eskalasi konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah memicu konsekuensi finansial yang sangat masif bagi kas negar

AS Kuras Anggaran Rp670 Triliun untuk Operasi Militer Lawan Iran

WASHINGTON — Eskalasi konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah memicu konsekuensi finansial yang sangat masif bagi kas negara adidaya tersebut. Berdasarkan laporan terbaru yang dirilis oleh Kantor Anggaran Kongres Amerika Serikat atau Congressional Budget Office (CBO), total dana pembayar pajak yang telah dihabiskan untuk membiayai operasi perang melawan Iran dan proksinya telah menembus angka fantastis, yakni sekitar US$38 miliar atau setara Rp670 triliun.

Tak hanya nominal akumulatif yang mengejutkan publik, CBO juga menyoroti laju pengeluaran militer Pentagon yang terus melonjak tajam. Operasi pertahanan dan serangan tersebut kini menyedot anggaran tambahan rata-rata mencapai US$3 miliar (sekitar Rp52 triliun) setiap bulannya, memicu kekhawatiran mendalam di kalangan legislator Capitol Hill terkait stabilitas fiskal nasional.

Kronologi Eskalasi dan Pembengkakan Anggaran Militer

Pengeluaran anggaran pertahanan AS tidak membengkak secara instan, melainkan melalui serangkaian tahapan eskalasi militer intensif selama beberapa bulan terakhir:

  1. Mobilisasi Awal Armada Tempur: Pengiriman gugus tempur kapal induk (Carrier Strike Group), penempatan skuadron jet tempur siluman F-35 dan F-22, serta penyiagaan ribuan personel tambahan di pangkalan-pangkalan strategis kawasan Teluk.
  2. Aktivasi Sistem Pertahanan Udara Terpadu: Pengerahan intensif baterai pertahanan rudal Patriot dan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) guna mencegat gelombang serangan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone).
  3. Operasi Serangan Balasan dan Intersepsi: Konsumsi harian ratusan rudal pencegat Standard Missile-3 (SM-3) dan rudal jelajah Tomahawk yang masing-masing berharga jutaan dolar per unit.

Tingginya Biaya Logistik dan Amunisi Berteknologi Tinggi

Sebagian besar beban pengeluaran bersumber dari tingginya harga amunisi presisi tinggi serta biaya pemeliharaan armada yang beroperasi dalam status siaga tempur penuh tanpa henti. Setiap rudal pencegat yang diluncurkan oleh kapal perusak Angkatan Laut AS untuk merontokkan drone berbiaya murah justru menelan biaya ratusan kali lipat lebih mahal.

"Pengeluaran militer dalam skala ini menghabiskan cadangan anggaran darurat lebih cepat dari perkiraan semula. Jika intensitas pertempuran terus berlangsung, Kongres harus segera mengesahkan undang-undang pendanaan tambahan demi mencegah defisit yang semakin parah," demikian kutipan dari ringkasan laporan CBO.

Sorotan Tajam Parlemen dan Dampak Domestik

Membengkaknya biaya perang ini langsung memicu perdebatan sengit di Kongres AS. Faksi oposisi dan sejumlah anggota parlemen mulai mendesak Gedung Putih untuk memberikan transparansi penuh serta strategi keluar (exit strategy) yang terukur. Poin-poin kritis yang disorot meliputi:

  • Beban Utang Nasional: Defisit anggaran federal AS yang telah berada pada level kritis kini kian tertekan oleh kebutuhan dana operasi luar negeri.
  • Pengorbanan Program Domestik: Desakan publik agar anggaran triliunan rupiah lebih dialokasikan untuk sektor kesehatan, pendidikan, dan penguatan ekonomi dalam negeri.
  • Ketidakpastian Akhir Konflik: Risiko terseretnya militer AS ke dalam perang berkepanjangan tanpa hasil politik yang jelas di Timur Tengah.

Hingga saat ini, Departemen Pertahanan AS (Pentagon) belum memberikan rincian alokasi anggaran lanjutan yang akan diajukan ke Kongres, sementara tensi geopolitik di kawasan Teluk masih berada pada titik didih tertinggi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS hendra-wijaya

Editor Politik. Mantan jurnalis cetak dengan spesialisasi politik elektoral. Menulis analisis kebijakan dan reportase parlemen.

Comments (0)

User