Oct 08, 2026
Hukum

AS Dihantui Kelelahan Berita Trump yang Tak Berkesudahan

Washington DC — Lanskap media Amerika Serikat tengah menghadapi fenomena yang jarang dibahas secara terbuka: kelelahan publik terhadap pemberitaan Donald T

AS Dihantui Kelelahan Berita Trump yang Tak Berkesudahan

Washington DC — Lanskap media Amerika Serikat tengah menghadapi fenomena yang jarang dibahas secara terbuka: kelelahan publik terhadap pemberitaan Donald Trump yang nyaris tanpa jeda. Bahkan ketika media tidak secara sengaja bersikap negatif terhadap mantan presiden tersebut, arus informasinya tetap terasa membanjiri ruang publik. Setiap pernyataan, setiap unggahan di platform Truth Social, hingga setiap kemunculan publik menjadi bahan pemberitaan yang menggantikan isu-isu lain.

Fenomena ini oleh sejumlah pengamat media dijuluki sebagai Trump Saturation Syndrome atau sindrom kejenuhan Trump. Istilah ini merujuk pada kondisi ketika satu figur politik mendominasi siklus berita selama bertahun-tahun, hingga audiens kehilangan kemampuan untuk memproses informasinya secara sehat. Dampaknya bukan hanya pada preferensi politik, tetapi juga pada kesehatan mental konsumen berita.

Dominasi Figur Tunggal dalam Siklus Berita

Sejak mencalonkan diri pada 2015, Trump telah menjadi magnet liputan yang sulit ditandingi politisi mana pun. Media arus utama maupun alternatif sama-sama menjadikannya pusat perhatian, karena nilai beritanya yang tinggi. Paradoxnya, meski Trump sering menuduh media bersikap tidak adil, justru liputan intensif itulah yang menjaga visibilitasnya di ruang publik.

Analis media dari Universitas Columbia, Sarah Whitfield, menilai bahwa jumlah pemberitaan tentang Trump telah melampaui ambang batas kewajaran.

"Bahkan media yang berusaha netral sekalipun terjebak dalam pusaran ini. Mereka meliput Trump bukan karena ingin memihak, tetapi karena audiens terus mengklik dan menonton. Ini lingkaran yang sulit diputus,"
ujarnya dalam sebuah diskusi panel di New York pekan lalu.

Dampak pada Konsumsi Berita dan Kesehatan Mental

Survei terbaru dari Pew Research Center menunjukkan bahwa 62 persen responden mengaku merasa lelah dengan pemberitaan politik yang terus-menerus menyoroti satu figur tertentu. Sementara itu, 41 persen lainnya mengaku sengaja menghindari berita politik sama sekali dalam beberapa bulan terakhir.

IndikatorPersentase
Merasa lelah dengan berita Trump62%
Menghindari berita politik41%
Mengurangi konsumsi media37%

Psikolog media Daniel Reyes menjelaskan bahwa paparan berita yang berulang dengan nada konfliktual dapat memicu burnout informasi.

"Otak manusia dirancang untuk merespons ancaman. Ketika ancaman itu datang terus-menerus dalam bentuk berita, sistem saraf kita tidak pernah benar-benar beristirahat,"
jelasnya.

Media dan Dilema Etika Pemberitaan

Di sisi lain, media berada dalam posisi sulit. Mengecilkan pemberitaan Trump berisiko dianggap mengabaikan isu penting, sementara terus memberitakannya bisa memperkuat kelelahan publik. Sejumlah redaksi mulai menerapkan pendekatan selektif, hanya memberitakan perkembangan yang benar-benar substantif.

Namun, upaya itu tidak mudah. Algoritma media sosial dan ekonomi perhatian membuat konten tentang Trump tetap menjadi primadona. Selama audiens masih menikmati dan mengonsumsi konten tersebut, siklus ini diprediksi akan terus berlanjut hingga pemilu berikutnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS hendra-wijaya

Editor Politik. Mantan jurnalis cetak dengan spesialisasi politik elektoral. Menulis analisis kebijakan dan reportase parlemen.

Comments (0)

User