Suasana gemerlap perhelatan New York Fashion Week (NYFW) mendadak tegang ketika sejumlah aktivis dari organisasi perlindungan hak asasi hewan, People for the Ethical Treatment of Animals (PETA), menerobos panggung peragaan busana jenama COS. Aksi unjuk rasa yang berlangsung cepat dan mengejutkan para tamu undangan tersebut menyoroti praktik eksploitasi hewan di balik industri fesyen global, khususnya penggunaan material wol.
Sambil membawa poster dan spanduk bertuliskan pesan-pesan penolakan terhadap penggunaan wol, para aktivis menyerukan agar rumah mode internasional segera beralih ke material yang lebih etis dan ramah lingkungan. Peristiwa ini menjadi salah satu sorotan utama dalam rangkaian pekan mode New York yang dihadiri oleh desainer papan atas, selebritas, dan para pelaku industri mode dunia.
Kronologi Aksi Protes di Panggung Bergengsi
Aksi demonstrasi berlangsung di tengah-tengah langkah anggun para model yang memamerkan koleksi terbaru COS musim gugur/dingin. Aktivis PETA berhasil menyusup ke area panggung utama dan langsung membentangkan spanduk bernada kecaman sebelum petugas keamanan setempat bergerak cepat mengawal mereka keluar dari arena peragaan.
"Domba bukanlah bahan pakaian kita. Mereka adalah makhluk hidup yang memiliki perasaan dan kerap mengalami kekejaman di peternakan wol industri," tegas salah satu perwakilan PETA dalam pernyataan resminya menyusul insiden tersebut.
Meskipun aksi tersebut berlangsung singkat dan tanpa kekerasan fisik, insiden ini berhasil mengalihkan perhatian publik dan awak media yang meliput jalannya peragaan busana. Rekaman video aksi protes itu pun langsung viral di media sosial, memicu kembali diskursus hangat mengenai etika penggunaan bahan hewani di panggung mode kelas atas.
Sorotan terhadap Eksploitasi Industri Wol
Selama bertahun-tahun, kampanye perlindungan hewan kerap berfokus pada bulu hewan (*fur*) dan kulit eksotis. Namun, kini PETA memperluas fokus advokasinya ke industri wol yang selama ini dianggap publik sebagai material yang relatif aman dan berkelanjutan.
PETA menegaskan bahwa proses pencukuran wol dalam skala industri sering kali melibatkan kekerasan tersembunyi yang jarang diketahui oleh konsumen luas. Beberapa poin utama yang disuarakan aktivis meliputi:
- Praktik *Mulesing*: Prosedur pengelupasan kulit pada domba tanpa anestesi yang masih dilakukan di sejumlah sentra produksi wol dunia.
- Kekerasan Saat Pencukuran Cepat: Pekerja sering kali dibayar berdasarkan volume, yang memicu pemotongan kasar dan cedera parah pada hewan.
- Dampak Lingkungan: Peternakan domba intensif menghasilkan emisi gas metana tinggi serta memicu degradasi lahan dan deforestasi.
Dorongan Menuju Mode Ramah Hewan dan Berkelanjutan
Aksi protes di peragaan COS ini bukan insiden pertama yang dilakukan PETA di panggung busana internasional. Organisasi tersebut secara konsisten menekan grup mode besar—termasuk pemilik jenama COS—untuk sepenuhnya meninggalkan wol dan mengadopsi material nabati atau daur ulang modern, seperti serat bambu, katun organik, rami, dan serat inovatif berbasis tanaman lainnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat keras bagi para pelaku industri fesyen bahwa tuntutan transparansi rantai pasok dan etika lingkungan bukan lagi sekadar tren musiman, melainkan desakan nyata dari konsumen dan komunitas pemerhati keberlanjutan di tingkat global.
Comments (0)