Akademisi Sebut Buya Hamka Ulama Sekaligus Sastrawan Multidimensi

Di tengah arus modernisasi yang kerap menggerus nilai-nilai lokal, nama Buya Hamka tetap bersinar sebagai mercusuar peradaban Indonesia. Haji Abdul Malik K

Jul 11, 2026 - 21:44
0 1
Akademisi Sebut Buya Hamka Ulama Sekaligus Sastrawan Multidimensi

Di tengah arus modernisasi yang kerap menggerus nilai-nilai lokal, nama Buya Hamka tetap bersinar sebagai mercusuar peradaban Indonesia. Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang akrab disapa Buya Hamka, adalah tokoh langka yang tidak hanya dihormati sebagai ulama kharismatik tetapi juga dikagumi sebagai sastrawan ulung. Pandangan ini kembali ditegaskan oleh Fadlillah, dosen Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, dalam suatu kajian mendalam yang memposisikan Hamka sebagai figur multidimensi yang melampaui zamannya.

Kiprah Sebagai Ulama yang Membumi

Buya Hamka dikenal luas sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama. Namun, pengaruhnya sebagai ulama jauh melampaui posisi institusional. Melalui karya-karya tafsir monumental seperti Tafsir Al-Azhar yang ia selesaikan selama masa tahanan, Hamka menghadirkan pendekatan kontekstual yang merangkul nuansa keindonesiaan. Tafsir ini terdiri dari 30 juz yang ditulis dengan gaya bahasa jurnalistik yang segar, menjadikannya rujukan di berbagai perguruan tinggi Islam hingga kini. Ia tidak sekadar mengutip pendapat ulama klasik, tetapi juga menyelipkan refleksi tentang kondisi sosial, ekonomi, dan politik mutakhir pada masanya.

Dakwah Hamka pun tak pernah kering dari sentuhan humanisme. Ia memilih jalur dakwah kultural yang merangkul tradisi lokal alih-alih menghakiminya. Pidato-pidatonya di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, selalu dipenuhi jemaah yang haus akan pencerahan yang menyejukkan. Gaya komunikasinya yang santun namun tajam menjadi model ideal ulama publik yang relevan sepanjang masa.

Kontribusi di Dunia Sastra Indonesia

Sebagai sastrawan, Hamka adalah penggerak utama Angkatan Balai Pustaka dan kemudian menjadi tokoh sentral dalam sastra modern Indonesia. Novelnya Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (1938) dan Di Bawah Lindungan Ka’bah (1937) adalah mahakarya yang tak lekang oleh waktu. Keduanya telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 15 bahasa dan diadaptasi ke layar lebar, membuktikan daya tarik universal narasi Hamka. Lewat tokoh-tokoh seperti Zainuddin dan Hayati, Hamka menyuarakan pergulatan antara cinta, adat, dan agama—tiga poros yang hingga kini masih mewarnai dinamika sosial masyarakat Indonesia.

“Yang membedakan sastra Hamka dengan sastrawan lainnya adalah kemampuannya menyisipkan pesan moral tanpa terjebak dalam retorika dogmatis. Novel-novelnya ibarat cermin—pembaca tidak hanya melihat cerita, tapi juga melihat dirinya sendiri,” tulis Fadlillah dalam esainya di jurnal ilmiah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas.

Selain novel, Hamka juga produktif menulis cerpen, biografi, dan esai budaya. Karyanya Falsafah Hidup dan Lembaga Budi menunjukkan kedalaman pemikiran beliau tentang etika dan pembentukan karakter. Ia adalah intelektual otodidak yang berhasil menyintesiskan warisan Islam Nusantara dengan arus modernitas global.

Relevansi Pemikiran Hamka di Era Digital

Di tengah gempuran media sosial dan krisis otoritas keagamaan, pemikiran Hamka justru menemukan relevansinya kembali. Ketika banyak figur publik terjebak dalam polarisasi, Hamka telah lebih dulu mempraktikkan Islam yang ramah. Fatwa-fatwanya selalu diletakkan dalam kerangka maqashid syariah (tujuan syariah) yang menjunjung tinggi kemaslahatan umum. Ia pernah menegaskan, “Agama adalah akhlak; siapa yang bertambah akhlaknya, bertambah agamanya.” Pesan ini menjadi tamparan bagi tren keberagamaan instan yang mengukur kesalehan hanya dari ekspresi lahiriah.

Generasi muda mulai menggali kembali karya-karya Hamka melalui komunitas baca, podcast, bahkan diskusi di platform digital. Para akademisi, termasuk dari Universitas Andalas, aktif menggelar seminar dan publikasi untuk menjaga warisan intelektualnya tetap hidup. Fadlillah dan timnya baru-baru ini meluncurkan repositori digital yang mengumpulkan 200 lebih artikel, ceramah, dan manuskrip asli Hamka, terbuka untuk publik secara gratis.

Hamka sebagai Simbol Kebinekaan Nasional

Buya Hamka adalah produk sekaligus perajut kebinekaan. Lahir di Minangkabau, besar dalam tradisi Muhammadiyah, berkiprah di panggung nasional, dan wafat sebagai tokoh dihormati lintas golongan—Hamka merepresentasikan Indonesia sebelum konsep itu menjadi jargon politik. Dalam setiap langkahnya, ia membuktikan bahwa keislaman dan keindonesiaan bukanlah dua entitas yang saling menegasikan, melainkan dua sisi mata uang yang saling menguatkan.

Kini, saat bangsa ini kerap diuji oleh sekat-sekat identitas, teladan Hamka menjadi pengingat bahwa tokoh besar lahir bukan karena memilih satu identitas, tetapi karena berani merangkul seluruh warna yang ada. Ulama dan sastrawan, agamawan dan budayawan, penjaga tradisi dan penggerak modernitas—semua menyatu dalam diri Buya Hamka.

[SOCIAL_TWEET]: Buya Hamka bukan cuma ulama, tapi juga sastrawan hebat yang novelnya menyeberangi 15 bahasa. Dari Tafsir Al-Azhar hingga Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, semua menyatu dalam satu tokoh. Relevansinya abadi. #BuyaHamka #SastraIndonesia #UlamaNusantara[SOCIAL_TG]: 📚📿 BUYA HAMKA: ULAMA + SASTRAWAN Akademisi Unand sebut Hamka mampu satukan dakwah dan sastra tanpa dogmatis. Novelnya sudah 15+ bahasa, tafsirnya jadi rujukan global. Warisan digital gratis kini tersedia untuk publik.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User