Ahli Kecam Film Dokumenter yang Sebut ADHD Hanya Mitos Modern
Klaim bahwa ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) hanyalah mitos modern dan konstruksi sosial menuai kritik tajam dari kalangan ilmuwan dan pakar
Klaim bahwa ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) hanyalah mitos modern dan konstruksi sosial menuai kritik tajam dari kalangan ilmuwan dan pakar kesehatan. Dalam tulisannya, penulis sains Caroline Williams menegaskan bahwa menyebut ADHD sebagai mitos adalah tindakan pseudosains yang berbahaya, terutama karena kondisi ini dapat menimbulkan konsekuensi serius bila tidak terdiagnosis.
Kritik ini muncul menyusul tayangnya sebuah film dokumenter berjudul "The Great ADHD Myth?" yang dibawakan oleh Max Pemberton, seorang dokter yang bekerja di layanan kesehatan nasional Inggris (NHS). Film tersebut mempertanyakan apakah ADHD benar-benar gangguan nyata atau sekadar fenomena sosial modern.
Dokumenter yang Memicu Kontroversi
Dalam film itu, Pemberton digambarkan meragukan validitas ADHD sebagai kondisi medis. Gagasan yang diangkat dokumenter ini dinilai tidak selaras dengan konsensus ilmiah yang telah terbangun selama puluhan tahun melalui ribuan penelitian di seluruh dunia.
"Menyebut ADHD sebagai mitos adalah pseudosains yang berbahaya," tulis Caroline Williams.
Menurut para pakar, narasi semacam ini bukan sekadar keliru, tetapi berpotensi merugikan jutaan orang yang hidup dengan ADHD, terutama anak-anak dan remaja yang membutuhkan diagnosis serta penanganan sejak dini.
Apa Kata Sains tentang ADHD
ADHD adalah gangguan perkembangan saraf yang ditandai dengan kesulitan memusatkan perhatian, hiperaktivitas, dan perilaku impulsif. Kondisi ini diperkirakan dialami oleh sekitar lima persen anak di dunia dan sering kali berlanjut hingga usia dewasa.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ADHD memiliki dasar biologis yang kuat. Faktor genetik diperkirakan menyumbang 70 hingga 80 persen dari risiko seseorang mengidap ADHD. Studi pencitraan otak juga menemukan perbedaan struktur dan aktivitas pada area otak yang mengatur perhatian dan kontrol diri pada penderita, termasuk keterlambatan pematangan korteks prefrontal.
Meski tidak ada tes tunggal untuk mendiagnosis ADHD, para profesional kesehatan menggunakan penilaian klinis yang komprehensif, melibatkan wawancara, pengamatan perilaku, dan riwayat perkembangan. Diagnosis yang tepat menjadi kunci agar penderita mendapatkan terapi yang sesuai, baik berupa konseling, dukungan pendidikan, maupun pengobatan.
Bahaya Jika Tidak Terdiagnosis
Yang menjadi kekhawatiran utama para ahli adalah dampak buruk ketika ADHD tidak terdiagnosis. Anak-anak yang tidak tertangani berisiko mengalami kegagalan akademik, masalah sosial, dan rendahnya harga diri. Sementara itu, orang dewasa dengan ADHD yang tidak diobati menghadapi risiko lebih tinggi mengalami kecelakaan, penyalahgunaan zat, kesulitan bekerja, hingga masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan.
Sejumlah penelitian bahkan mengaitkan ADHD yang tidak tertangani dengan peningkatan risiko kecelakaan lalu lintas dan perilaku berisiko lainnya. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berdampak serius pada kualitas hidup, karier, dan hubungan sosial penderitanya.
Stigma yang Semakin Diperparah
Narasi yang menyebut ADHD sebagai mitos juga berisiko memperkuat stigma di masyarakat. Banyak orang tua yang sebenarnya sudah kesulitan mencari bantuan justru bisa merasa ragu untuk membawa anaknya diperiksa. Penderita dewasa yang telah didiagnosis pun dapat merasa diagnosis mereka dipertanyakan di depan publik.
Padahal, dengan penanganan yang tepat, banyak penderita ADHD mampu menjalani kehidupan yang sukses dan produktif. Sejumlah tokoh terkenal di bidang sains, olahraga, dan seni diketahui hidup dengan ADHD, membuktikan bahwa kondisi ini tidak menghalangi seseorang untuk berprestasi.
Kronologi Perjalanan Pemahaman ADHD
- Awal abad ke-20: Para dokter mulai mencatat gejala-gejala yang kini dikenal sebagai ADHD pada anak-anak.
- 1960-an: Istilah gangguan hiperkinetik mulai digunakan dan penelitian tentang pengaruh obat stimulan berkembang pesat.
- 1980-an: ADHD resmi diakui sebagai gangguan dalam manual diagnostik kesehatan jiwa.
- 1990-an hingga kini: Ribuan studi genetika dan pencitraan otak memperkuat bukti bahwa ADHD adalah kondisi biologis yang nyata.
- 2026: Sebuah film dokumenter kembali mempertanyakan status ADHD sebagai gangguan, memicu kecaman dari komunitas ilmiah.
Seruan untuk Lebih Berhati-hati
Williams mengingatkan bahwa media memiliki tanggung jawab besar dalam menyajikan isu kesehatan. Film dokumenter yang mengedepankan narasi kontroversial tanpa dasar ilmiah yang kuat dapat membingungkan publik dan menghambat upaya penanganan yang seharusnya dilakukan sejak dini.
Para ahli kesehatan pun menyerukan agar publik mengandalkan informasi dari sumber yang kredibel, seperti organisasi kesehatan dunia, asosiasi psikiatri, dan tenaga medis profesional, alih-alih tayangan yang mengabaikan konsensus ilmiah. Bagi mereka yang mencurigai diri atau anggota keluarganya mengalami ADHD, langkah yang tepat adalah berkonsultasi dengan profesional kesehatan — bukan mempercayai klaim yang belum terbukti secara ilmiah.
[SOCIAL_TWEET]: Film dokumenter yang menyebut ADHD sebagai mitos dikritik keras sebagai pseudosains berbahaya. ADHD adalah kondisi nyata dengan dasar biologis kuat. 🧠 #ADHD #KesehatanMental[SOCIAL_TG]: Ahli kecam dokumenter "The Great ADHD Myth?" yang menyebut ADHD sekadar mitos modern. ADHD nyata dan berbahaya bila tak terdiagnosis. Baca selengkapnya.
Comments (0)