JAKARTA — Catatan sejarah peradaban Islam awal merekam aksi kemanusiaan luar biasa yang dilakukan oleh salah satu sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar Ash-Shiddiq. Di tengah kekejaman kaum Quraisy di Makkah, Abu Bakar secara konsisten membelanjakan harta kekayaannya untuk memerdekakan budak-budak Muslim yang lemah fisik dan tertindas secara sosial.
Langkah mulia ini sempat menuai tanda tanya dari sang ayah, Abu Quhafah, yang kala itu belum memeluk Islam. Sang ayah menyarankan agar putranya membeli dan membebaskan budak-budak pria bertubuh kekar demi membangun aliansi perlindungan suku. Namun, Abu Bakar menolak motif pragmatis tersebut demi sebuah prinsip akidah yang kokoh.
Eskalasi Penindasan Terhadap Kaum Mustadh’afin
Pada periode awal dakwah Islam di Makkah, golongan hamba sahaya menjadi kelompok yang paling rentan mengalami penyiksaan fisik brutal. Tanpa adanya jaminan perlindungan klan atau kabilah, para majikan kafir Quraisy menyiksa mereka secara keji agar kembali kepada kemusyrikan.
Melihat penderitaan tersebut, Abu Bakar tidak tinggal diam. Ia segera mengambil langkah konkret untuk menyelamatkan nyawa mereka melalui penebusan finansial bernilai tinggi:
- Bilal bin Rabah, yang disiksa di bawah terik matahari Makkah dengan batu besar di dadanya.
- Amir bin Fuhairah, yang terus disiksa hingga kehilangan kesadaran sebelum ditebus.
- Zinnirah, seorang budak perempuan yang disiksa hingga mengalami kebutaan sebelum Allah memulihkan penglihatannya.
- Umm Ubais dan An-Nahdiyah beserta putrinya yang kerap disiksa majikannya dari Bani Abdud Dar.
Dialog Filosofis Antara Abu Bakar dan Sang Ayah
Keputusan Abu Bakar yang lebih memprioritaskan wanita, lansia, dan orang-orang lemah menuai keheranan dari Abu Quhafah. Logika klan Arab saat itu menuntut kekuatan fisik sebagai bentuk proteksi diri dari ancaman musuh.
"Wahai anakku, kulihat engkau sibuk membebaskan orang-orang yang lemah. Sekiranya engkau membebaskan pria-pria perkasa, mereka kelak dapat berdiri membela dan melindungimu dari musuh," tutur Abu Quhafah memberi saran.
Menanggapi saran tersebut, Abu Bakar memberikan jawaban tegas yang mencerminkan ketulusan niat ibadah tanpa pamrih politis:
"Wahai ayahku, sesungguhnya aku hanya menginginkan apa yang ada di sisi Allah," tegas Abu Bakar.
Penegasan Wahyu atas Ketulusan Abu Bakar
Ketulusan Abu Bakar kemudian diabadikan dalam Al-Qur'an. Para mufasir sepakat bahwa turunnya ayat-ayat dalam Surah Al-Lail ayat 17-21 merujuk langsung pada ketulusan Abu Bakar yang menginfakkan hartanya murni untuk membersihkan diri dan mencari wajah Tuhannya Yang Maha Tinggi, bukan karena mengharap balas budi duniawi.
Tindakan Abu Bakar Ash-Shiddiq membuktikan bahwa pembebasan manusia dalam Islam berpijak pada nilai-nilai keadilan universal dan martabat kemanusiaan, bukan kalkulasi politik atau keuntungan personal.
Comments (0)