Pakar BRIN Ungkap Api Bawah Permukaan Sebab Kebakaran TPA Jatiwaringin Sulit Padam
Kebakaran yang melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Tangerang Selatan terus menyisakan asap tebal meski upaya pemadaman besar-besaran tela
Kebakaran yang melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Tangerang Selatan terus menyisakan asap tebal meski upaya pemadaman besar-besaran telah dikerahkan. Api yang baru benar-benar padam di permukaan ternyata masih menyala di kedalaman tumpukan sampah. Pakar dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan, fenomena api bawah permukaan (subsurface fire) menjadi penyebab utama kebakaran ini sangat sulit dijinakkan.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Wahyu Purwanta, menuturkan bahwa kebakaran di TPA bukanlah kebakaran biasa. "Yang kita lihat di permukaan hanyalah asap dan pijaran kecil, tetapi di dalam gunungan sampah setinggi puluhan meter, api terus membara dan merambat lewat rongga-rongga gas metana," jelasnya saat dihubungi. Kondisi ini, menurutnya, membuat air dan foam yang disemprotkan dari luar hanya efektif mendinginkan permukaan, tanpa mampu menjangkau inti bara.
Mengapa Api Bawah Permukaan Begitu Sulit Dipadamkan?
Struktur tumpukan sampah di TPA Jatiwaringin yang telah menggunung selama bertahun-tahun membentuk lapisan-lapisan material organik yang terurai secara anaerobik. Proses dekomposisi ini menghasilkan gas metana, senyawa yang sangat mudah terbakar. Ketika suhu di dalam tumpukan melebihi titik bakar—yang bisa terjadi akibat akumulasi panas dekomposisi atau sulutan dari luar—gas metana menyala dan api mulai merambat secara vertikal maupun horizontal.
"Api bawah permukaan ini ibarat bara di tungku tanah. Ia bisa bertahan berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan jika suplai oksigen cukup melalui retakan dan pori-pori sampah," tambah Purwanta.
Upaya pemadaman konvensional dengan menyiram air dari atas justru sering kontraproduktif. Air yang meresap membawa oksigen terlarut, yang dapat menyulut gas metana lebih banyak. Selain itu, air bisa menciptakan jalur baru bagi oksigen untuk mencapai titik api yang lebih dalam. Hal ini menjelaskan mengapa titik api di TPA Jatiwaringin terus bermunculan kembali meskipun petugas pemadam telah menyiram area tersebut berkali-kali.
Karakteristik Kebakaran TPA dan Risiko Lingkungan
Berbeda dengan kebakaran hutan atau bangunan, kebakaran TPA melepaskan partikel berbahaya seperti dioksin, furan, dan hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH) yang merupakan karsinogen. Asap tebal dari kebakaran TPA Jatiwaringin telah mengganggu pernapasan warga sekitar, terutama anak-anak dan lansia. Dinas Lingkungan Hidup setempat melaporkan peningkatan kasus ISPA dalam dua pekan terakhir.
Data dari Satuan Tugas Penanganan Kebakaran TPA Jatiwaringin mencatat, kebakaran kali ini telah berlangsung lebih dari 10 hari dengan luas area terbakar mencapai 2,3 hektare. Sekitar 85 persen area terdampak merupakan zona tumpukan sampah lama yang kaya material organik dan telah melalui proses dekomposisi lanjut.
Strategi Penanganan “Subsurface Fire”
BRIN mendorong agar penanganan kebakaran TPA beralih dari pendekatan reaktif menjadi teknis. Metode yang direkomendasikan antara lain injeksi gas inert seperti nitrogen atau karbon dioksida untuk mengurangi konsentrasi oksigen di dalam tumpukan, pembuatan sekat bakar dengan menggali parit dalam, serta penggunaan bahan pemadam khusus encapsulator agent yang mampu membentuk lapisan penutup di atas permukaan bara.
Di sisi regulasi, pemerintah daerah didesak untuk mempercepat penutupan operasional TPA Jatiwaringin yang sudah overload dan beralih ke sistem pengelolaan sampah terpadu yang meminimalkan timbunan sampah organik. Penataan ulang tata kelola sampah menjadi kunci agar tragedi asap beracun ini tidak terus berulang.
Sementara itu, tim gabungan masih berjibaku membasahi timbunan sambil memantau konsentrasi gas metana secara berkala. Warga diimbau untuk tetap menggunakan masker N95 dan mengurangi aktivitas luar ruang hingga status darurat kebakaran dicabut.
[SOCIAL_TWEET]: Api bawah permukaan jadi biang kerok kebakaran TPA Jatiwaringin sulit padam. Pakar BRIN jelaskan mengapa air tak mampu menjangkau bara di kedalaman sampah. Ini penjelasannya! #KebakaranTPA #TPAJatiwaringin #BRIN [SOCIAL_TG]: 🔥 Pakar BRIN: Api di bawah gunungan sampah TPA Jatiwaringin sulit padam karena gas metana terus menyala. Asap beracun ancam warga.
Comments (0)