Sep 01, 2026
Hukum

NEPAL — Banjir Bandang Tewaskan 675 Peziarah di Gunung Kailash

Ribuan peziarah Hindu yang tengah melakukan perjalanan spiritual ke Gunung Kailash di perbatasan Nepal-Tibet menjadi korban bencana banjir bandang yang mel

NEPAL — Banjir Bandang Tewaskan 675 Peziarah di Gunung Kailash

Ribuan peziarah Hindu yang tengah melakukan perjalanan spiritual ke Gunung Kailash di perbatasan Nepal-Tibet menjadi korban bencana banjir bandang yang melanda kawasan tersebut dalam sepekan terakhir. Otoritas Nepal melaporkan sedikitnya 675 orang tewas, sementara ribuan lainnya masih belum ditemukan hingga Jumat (12/8). Gunung Kailash, yang dianggap suci oleh umat Hindu, Buddha, dan Jain, menjadi pusat perhatian dunia setelah bencana ini memicu operasi pencarian besar-besaran.

Awal Musim Hujan dan Lonjakan Peziarah

Setiap tahun, ribuan peziarah dari India, Nepal, dan negara Asia Selatan lainnya berbondong-bondong menuju Gunung Kailash untuk mengikuti ritual keagamaan, terutama saat musim hujan yang dianggap sebagai waktu paling sakral. Tahun ini, jumlah peziarah diperkirakan mencapai 8.000 orang, melonjak signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

  1. Peningkatan volume peziarah terjadi sejak awal Juli, dengan puncak kunjungan pada akhir Juli hingga awal Agustus.
  2. Pemerintah Nepal memang tidak memberlakukan pembatasan, namun sistem peringatan dini bencana di kawasan pegunungan dinilai masih lemah.
  3. Beberapa peziarah mengaku tidak mendapat informasi cuaca ekstrem sebelum berangkat. "Kami hanya diberi tahu bahwa ini musim hujan biasa," ujar seorang peziarah yang selamat, Rajesh Thapa (42).

Banjir Bandang Menerjang Kamp Peziarah

Pada Senin (8/8) dini hari, hujan deras yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut memicu tanah longsor dan banjir bandang di lembah di kaki Gunung Kailash. Air bah menghanyutkan tenda-tenda peziarah yang didirikan di sepanjang sungai kecil. Para saksi mata menggambarkan kejadian itu berlangsung sangat cepat.

  1. Sekitar pukul 03.00 waktu setempat, suara gemuruh keras terdengar dari arah utara. Beberapa peziarah yang terjaga langsung berlari ke tempat yang lebih tinggi.
  2. Air setinggi tiga meter menerjang kamp-kamp dalam hitungan menit. Lebih dari 200 tenda hanyut bersama perlengkapan dan manusia.
  3. Tim penyelamat dari Tentara Nepal dan organisasi sukarelawan mulai bergerak setelah matahari terbit, namun medan yang sulit menghambat akses.

Korban dan Upaya Evakuasi

Hingga hari ini, data resmi mencatat 675 jenazah telah ditemukan. Sebagian besar korban adalah peziarah asal India (430 orang), disusul Nepal (180 orang), dan sisanya dari negara lain. Ribuan orang masih dinyatakan hilang, dan tim penyelamat terus menyisir sungai serta lembah di sekitar Gunung Kailash.

  1. Operasi pencarian melibatkan 1.500 personel, termasuk helikopter dan anjing pelacak. Namun cuaca buruk sering menghentikan penerbangan.
  2. Pemerintah Nepal mendirikan posko pengungsian di desa terdekat, Simikot, yang menampung lebih dari 2.000 penyintas.
  3. Korban luka-luka dirawat di rumah sakit lapangan dengan dukungan dari Palang Merah Internasional.

Dampak dan Respons Internasional

Bencana ini menjadi salah satu yang terparah di Nepal dalam satu dekade terakhir. Komunitas internasional, termasuk India dan Tiongkok, telah menawarkan bantuan. Perdana Menteri Nepal menyatakan masa berkabung nasional selama tiga hari.

  1. India mengirimkan tiga pesawat kargo berisi peralatan medis dan tim penyelamat tambahan. Sebagian besar korban India akan dipulangkan dengan penerbangan khusus.
  2. Pemerintah Nepal berjanji akan merevisi sistem peringatan dini di kawasan wisata religi. "Kami tidak ingin tragedi ini terulang," kata juru bicara kementerian dalam negeri.
  3. Para pemuka agama Hindu mendesak agar ziarah ke Gunung Kailash ditunda hingga musim kemarau tiba.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS hendra-wijaya

Editor Politik. Mantan jurnalis cetak dengan spesialisasi politik elektoral. Menulis analisis kebijakan dan reportase parlemen.

Comments (0)

User