Indonesia Genjot Pemanfaatan Geothermal Capai 5,1 GW pada 2030
JAKARTA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat potensi energi panas bumi atau geothermal Indonesia mencapai 23,9 gigawatt (GW), menjadikannya yang terbesar di dunia. Namun, kapas
JAKARTA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat potensi energi panas bumi atau geothermal Indonesia mencapai 23,9 gigawatt (GW), menjadikannya yang terbesar di dunia. Namun, kapasitas terpasang hingga saat ini baru sekitar 2,4 GW, atau hanya 10 persen dari total potensi yang ada. Pemerintah pun menargetkan penambahan kapasitas menjadi 5,1 GW pada tahun 2030 sebagai bagian dari strategi transisi energi menuju net zero emission 2060.
Potensi Besar, Tantangan Investasi
Laporan terbaru Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) menunjukkan bahwa Indonesia memiliki 332 titik prospek panas bumi yang tersebar di Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, hingga Maluku. Namun, pengembangan masih terkendala oleh tingginya biaya eksplorasi dan risiko geologis. “Investasi hulu geothermal membutuhkan modal besar, dengan risiko awal yang tinggi. Karena itu, kami mendorong skema pendanaan inovatif dan kemitraan dengan investor global,” ujar Direktur Jenderal EBTKE, Eniya Listiani Dewi, dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (15/4/2025).
Pemerintah telah menyiapkan berbagai insentif fiskal seperti tax holiday, pengurangan bea masuk, dan dukungan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk eksplorasi. Selain itu, melalui Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2022, harga listrik dari PLTP ditetapkan lebih kompetitif untuk menarik investor. Hingga awal 2025, tercatat ada 13 proyek geothermal yang sedang dalam tahap konstruksi dengan total kapasitas 1.200 MW.
PGE dan Mitra Internasional Percepat Ekspansi
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) menjadi pemain utama dalam pengembangan geothermal nasional. Saat ini PGE mengelola 13 Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) dengan kapasitas terpasang 1.877 MW. Perseroan menargetkan penambahan kapasitas 600 MW hingga 2027 melalui proyek-proyek seperti Lumut Balai Unit 2 di Sumatera Selatan dan Hululais di Bengkulu. “Kami juga menjalin joint venture dengan perusahaan asal Jepang dan Selandia Baru untuk transfer teknologi dan percepatan eksplorasi,” jelas Direktur Utama PGE, Julfi Hadi, dalam keterangan resmi.
Kerja sama internasional juga diperkuat melalui kemitraan dengan Asian Development Bank (ADB) yang menyediakan pinjaman lunak sebesar 500 juta dolar AS untuk proyek geothermal di Flores dan Sumba. Langkah ini sejalan dengan target pemerintah untuk mencapai bauran energi baru terbarukan sebesar 23 persen pada 2025, meskipun realisasi saat ini baru sekitar 14 persen.
Dampak Ekonomi dan Lingkungan
Pengembangan geothermal dinilai memberikan dampak positif ganda. Dari sisi lingkungan, energi panas bumi memiliki emisi karbon yang sangat rendah, hanya sekitar 0,05 kg CO2 per kWh, jauh lebih bersih dibandingkan batubara yang mencapai 0,9 kg CO2 per kWh. Secara ekonomi, proyek geothermal menciptakan lapangan kerja langsung bagi 10.000 orang dan mendukung pengembangan kawasan timur Indonesia. “Kami optimistis target 5,1 GW tercapai. Namun, perlu akselerasi izin dan kepastian lahan,” kata Eniya.
Meski potensinya besar, para pengamat energi mengingatkan perlunya reformasi regulasi untuk memperpendek waktu dari eksplorasi hingga operasi yang saat ini rata-rata memakan waktu 7–10 tahun. Indonesia juga masih menghadapi persaingan dari negara lain seperti Filipina dan Kenya yang lebih agresif dalam mengembangkan geothermal.
Dengan langkah-langkah strategis yang telah dicanangkan, pengembangan energi geothermal di Indonesia diharapkan tidak hanya mendukung ketahanan energi nasional tetapi juga berkontribusi signifikan dalam upaya global menekan perubahan iklim.
Comments (0)