BI Tahan Suku Bunga Acuan di 6,25 Persen, Dukung Stabilitas Rupiah
JAKARTA — Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 6,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 20-21 Maret 2024. Keputusan ini diambil
JAKARTA — Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 6,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 20-21 Maret 2024. Keputusan ini diambil untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global dan tekanan inflasi yang masih tinggi.
Latar Belakang Kebijakan Moneter Terbaru
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa kebijakan ini merupakan langkah pre-emptive dan forward-looking untuk memastikan inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1 persen pada 2024. Data terbaru menunjukkan inflasi Indonesia pada Februari 2024 tercatat sebesar 2,75 persen year-on-year (yoy), masih dalam rentang target. Namun, tekanan dari kenaikan harga pangan global dan potensi dampak El Nino perlu diantisipasi.
Selain menahan suku bunga, BI juga memperkuat kebijakan makroprudensial dengan melonggarkan rasio Loan to Value (LTV) untuk kredit properti dan kendaraan bermotor menjadi 100 persen. Langkah ini bertujuan mendorong pertumbuhan kredit di sektor riil, yang diperkirakan tumbuh 10-12 persen pada 2024.
Dampak terhadap Nilai Tukar Rupiah
Keputusan BI untuk mempertahankan suku bunga tinggi dinilai efektif menjaga stabilitas rupiah. Pada pekan ini, rupiah diperdagangkan di kisaran Rp15.650 per dolar AS, menguat 0,3 persen dibandingkan minggu sebelumnya. Namun, tekanan dari kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat (Fed rate di 5,5 persen) masih menjadi tantangan utama.
"Kami akan terus mengintervensi pasar valas melalui operasi moneter dan triple intervention untuk menjaga rupiah tetap stabil," ujar Perry Warjiyo dalam konferensi pers, Kamis (21/3/2024). BI juga memperkuat kerja sama dengan pemerintah dan perbankan untuk meningkatkan cadangan devisa, yang saat ini mencapai $145 miliar atau setara 6,5 bulan impor.
Prospek Ekonomi dan Inflasi ke Depan
BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2024 tetap kuat di kisaran 4,7-5,5 persen, didorong konsumsi domestik dan investasi. Namun, risiko global seperti perlambatan ekonomi Tiongkok dan ketegangan geopolitik dapat memengaruhi ekspor. Sementara itu, inflasi diperkirakan tetap rendah berkat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter.
Data terbaru menunjukkan kredit perbankan tumbuh 11,2 persen yoy pada Januari 2024, menandakan optimisme sektor bisnis. Likuiditas perbankan juga memadai dengan rasio Alat Likuid/Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) di 25,8 persen, di atas threshold 10 persen.
Kebijakan moneter BI ini mendapat respons positif dari pasar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,5 persen ke level 7.350 pada hari pengumuman. Analis memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga hingga kuartal III-2024, tergantung pada data inflasi dan pergerakan rupiah.
Dengan langkah ini, BI menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas makroekonomi sambil mendorong pertumbuhan berkelanjutan. Masyarakat dan pelaku usaha diharapkan dapat memanfaatkan kebijakan ini untuk mengoptimalkan aktivitas ekonomi nasional.
Comments (0)