Aurelie Moeremans Rilis Memoar ‘Broken Strings’, Kisah Luka Masa Kecil

Di sebuah sore yang temaram di kawasan Senayan, Jakarta, seorang perempuan dengan rambut cokelat bergelombang duduk di sudut kafe. Matanya menerawang sejen

Aurelie Moeremans Rilis Memoar ‘Broken Strings’, Kisah Luka Masa Kecil

Di sebuah sore yang temaram di kawasan Senayan, Jakarta, seorang perempuan dengan rambut cokelat bergelombang duduk di sudut kafe. Matanya menerawang sejenak sebelum ia menandatangani tumpukan buku bersampul gelap dengan ilustrasi benang-benang kusut yang nyaris putus. Buku itu adalah Broken Strings, memoar pertama aktris Aurelie Moeremans. Dalam hitungan hari sejak rilis, namanya kembali menghiasi linimasa, tapi kali ini bukan karena peran dalam sinetron atau film—melainkan karena keberaniannya membuka luka lama yang selama dua dekade ia sembunyikan di balik senyum dan akting ciamiknya.

Aurelie Moeremans, yang akrab disapa dengan nama panggilan “Aurel”, bukan aktris sembarangan. Lahir di Antwerpen, Belgia, pada 22 Februari 1993, ia adalah putri dari ayah Belgia dan ibu Indonesia. Perjalanan hidupnya yang lintas benua—dari Eropa berpindah ke Indonesia bersama ibunya saat remaja—sudah sering menjadi topik wawancara ringan di televisi. Namun, di balik sorot kamera, tersimpan kisah yang jauh lebih rumit. Memoar Broken Strings akhirnya menjadi wadah bagi Aurelie untuk menceritakan semuanya: masa kecil yang diwarnai perceraian orangtua, perundungan di sekolah, hingga perjuangan membangun karier di negeri yang awalnya terasa asing.

Gadis Kecil di Antara Dua Dunia

Ketika berusia sepuluh tahun, orangtua Aurelie bercerai. Sang ibu memutuskan kembali ke Indonesia, sementara Aurelie tetap di Belgia bersama ayahnya. Namun, tidak lama, ia menyusul ibunya ke Jakarta—sebuah kota yang hanya ia kenal lewat cerita dan foto. Transisi itu tidak mudah. Di salah satu bab dalam bukunya, Aurelie menggambarkan dirinya sebagai “anak aneh yang berbicara bahasa Indonesia dengan logat Belanda kaku”. Ia kerap menjadi sasaran ejekan di sekolah. “Rasanya seperti tali-tali yang menghubungkan aku dengan masa kecilku di Belgia—dengan ayah, teman-teman, bahkan bahasa ibuku—telah benar-benar putus,” tulis Aurelie dalam metafora yang memberi judul buku tersebut.

Luka itu membekas, tapi juga membentuk karakter. Aurelie kecil mulai belajar bertahan dengan menciptakan dunia sendiri—ia menulis diari, bermain drama di depan cermin, dan menonton film Disney sambil menirukan dialog. Tanpa sadar, ia sedang menanam benih-benih karier aktingnya kelak.

Panggung Sebagai Pelarian

Dunia hiburan pertama kali menyapa Aurelie pada tahun 2011 saat ia mengikuti pemilihan model majalah remaja. Parasnya yang eksotis—perpaduan Eropa-Asia dengan mata cokelat yang kuat—langsung menarik banyak perhatian. Sejak itu, tawaran bermain sinetron dan FTV mengalir. Dari Ganteng-Ganteng Serigala hingga Anak Jalanan, wajahnya menjadi akrab di layar kaca. Namun di balik popularitas, inner child-nya terus bergejolak. “Semakin banyak orang mengenal aku sebagai ‘Aurelie aktris’, justru semakin yakin aku bahwa ada bagian diri aku yang belum pernah benar-benar aku perkenalkan,” katanya.

Dalam Broken Strings, Aurelie membeberkan bagaimana ia kerap memakai peran untuk menyembunyikan kehampaan. Ada fase ketika ia merasa menjadi “boneka” yang hanya melakukan apa yang diinginkan orang lain—terutama di industri yang menuntut citra sempurna. Ia menulis secara gamblang tentang tekanan fisik dan mental di balik gemerlap, termasuk komentar publik tentang tubuhnya dan hubungan pribadinya yang beberapa kali menjadi santapan gosip. Buku itu sekaligus menjadi deklarasi bahwa ia bukan lagi perempuan yang tunduk pada ekspektasi.

Menulis untuk Merangkai Kembali

Proses menulis memoar ini memakan waktu hampir dua tahun. Aurelie tidak menggunakan penulis bayangan (ghostwriter)—ia benar-benar menuangkan isi hatinya sendiri, ditemani secangkir kopi di malam-malam sunyi. Kepada awak media yang ditemui saat peluncuran, ia mengaku momen tersulit adalah ketika menulis surat untuk mendiang ayahnya yang meninggal tanpa sempat mereka berdamai sepenuhnya.

“Di bagian itu, air mata saya tidak berhenti mengalir. Tapi saya sadar, menulis adalah cara saya menyambung kembali tali yang sudah lama putus dengan ayah. Meskipun dia sudah tiada, surat itu membuat saya merasa dekat lagi,” tutur Aurelie, suaranya bergetar.

Selain surat tersebut, buku ini juga memuat foto-foto pribadi, termasuk tiket pesawat yang menjadi saksi perpindahan hidupnya, serta puisi pendek yang ia tulis saat remaja. Salah satu momen paling menggugah dalam buku adalah pengakuan Aurelie tentang upayanya mencari jati diri setelah bertahun-tahun merasa “tidak sepenuhnya Indonesia dan tidak lagi sepenuhnya Belgia”. Ia menemukan bahwa rumah tidak selalu tentang tempat, melainkan tentang penerimaan terhadap diri sendiri. Pesan inilah yang ia harap bisa menginspirasi pembaca, khususnya mereka yang juga tumbuh di antara dua budaya atau yang sedang berjuang dengan luka masa lalu.

Sambutan Hangat dan Harapan Baru

Sejak pre-order dibuka, Broken Strings mencatat angka penjualan yang menjanjikan dan sempat masuk daftar buku paling dicari di platform daring. Banyak pembaca, terutama perempuan muda, mengaku tersentuh karena bisa melihat sisi rapuh seorang figur publik yang biasanya tampak kuat. Media sosial pun dibanjiri pesan dukungan. Beberapa rekan artis, seperti Prilly Latuconsina dan Adipati Dolken, turut mengunggah foto bersama buku tersebut sambil menuliskan apresiasi mereka. “Aurelie benar-benar membuka dirinya. Ini bukan sekadar memoar artis, ini pelajaran hidup,” tulis seorang pengguna di salah satu unggahan.

Namun, ada pula pro-kontra dari pihak keluarga. Aurelie sempat khawatir dengan respons ibunya, mengingat beberapa bagian buku menyinggung ketidakharmonisan rumah tangga. Tapi sang ibu, yang hadir di acara peluncuran, justru memberikan pelukan erat. “Ibu bilang, akhirnya aku bebas,” cerita Aurelie dengan mata berkaca-kaca. Kini, ia berharap Broken Strings bisa menjadi awal dari perjalanan baru—bukan hanya sebagai aktris, tapi juga sebagai penulis dan penyintas yang berbagi cahaya bagi mereka yang masih bergelut dalam gelap.

Langkah Selanjutnya

Dengan keberhasilan memoar ini, Aurelie tak ingin berhenti. Ia tengah merancang proyek film pendek yang diadaptasi dari salah satu bab di buku, sekaligus berencana menerjemahkan Broken Strings ke bahasa Belanda untuk menjangkau pembaca di Eropa. “Saya ingin orang tahu bahwa every broken string can be re-tied—setiap tali yang putus bisa disambung kembali, walau bekas simpulnya akan tetap ada,” katanya, mengutip kalimat penutup bukunya. Di usianya yang kini 32 tahun, Aurelie Moeremans membuktikan bahwa luka, jika dirawat dengan kejujuran, bisa berubah menjadi sebuah karya yang indah dan menyembuhkan.

[SOCIAL_FB]: Di balik senyum dan popularitasnya, aktris Aurelie Moeremans menyimpan luka yang ia pendam dua dekade. Kini ia menuangkannya dalam memoar "Broken Strings"—tentang keluarga yang retak, perundungan, dan pencarian jati diri antara dua benua. Sebuah buku yang bukan sekadar kisah pribadi, tetapi juga pelukan bagi siapa pun yang pernah merasa tali-tali dalam hidupnya terputus. Apakah kamu sudah membaca? Bagikan pendapatmu di kolom komentar. [SOCIAL_THREADS]: Aurelie Moeremans baru saja merilis buku memoar Broken Strings. Isinya? Bukan hanya soal patah hati, tapi juga soal tumbuh di dua budaya, kehilangan ayah, dan menjadi kuat setelah di-bully. Baca halaman per halaman, rasanya seperti duduk mendengar curhat seorang sahabat. 💔

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User