As all gather in commons — Pameran Lima Seniman Soroti Perempuan dan Keibuan

Sebuah pameran seni rupa bertajuk "As all gather in commons" menghadirkan karya lima seniman yang mengupas kehidupan perempuan dari sudut paling intim. Dia

As all gather in commons — Pameran Lima Seniman Soroti Perempuan dan Keibuan

Sebuah pameran seni rupa bertajuk "As all gather in commons" menghadirkan karya lima seniman yang mengupas kehidupan perempuan dari sudut paling intim. Dian Utami, Ella Wijt, Meliantha Muliawan, Sekarputi Sidhiawati, dan Theresia Agustina Sitompul menampilkan karya-karya yang menyinggung tema domestisitas, identitas, masa kanak-kanak, perempuan, dan keibuan. Momen pameran ini terekam dalam dokumentasi foto yang dirilis KLY melalui lensa fotografer Budy Santoso.

Yang menarik, pameran ini tidak menampilkan satu medium tunggal. Lukisan berdampingan dengan tekstil, keramik, cetakan, karya tiga dimensi, hingga benda temuan. Pilihan medium yang beragam itu seolah menegaskan pesan besarnya: cerita perempuan tidak bisa dibaca hanya dari satu sisi saja. Setiap bahan, jahitan, goresan, dan bentuk memiliki bahasanya sendiri untuk bercerita.

Ruang Domestik yang Menjadi Panggung

Domestisitas menjadi salah satu benang merah pameran ini. Selama ini, ruang domestik — dapur, kamar, halaman belakang — kerap dianggap sepele, privat, dan identik dengan peran perempuan. Para seniman membalik anggapan itu dengan menjadikan ruang-ruang tersebut sebagai panggung gagasan. Benda sehari-hari yang ditemukan lalu diolah kembali berubah menjadi penanda ingatan, beban, sekaligus kehangatan yang hadir dalam keseharian.

Identitas perempuan pun dibedah dari lapisan paling pribadi: tubuh, peran, dan relasi. Karya tekstil dan sulaman, misalnya, mengangkat bahasa yang selama ini dianggap "keterampilan perempuan" menjadi medium kritik yang tajam. Keramik yang rapuh namun dibentuk dengan tangan menjadi metafora tubuh yang lentur, sekaligus kuat. Pilihan-pilihan ini menunjukkan bahwa persoalan perempuan tidak selalu perlu disuarakan dengan cara yang besar dan berisik; kadang justru dari keheningan dan kerapuhan, kritik paling dalam lahir.

Lima Seniman, Satu Kisah Kolektif

Ella Wijt, seniman kelahiran Belanda yang lama berkarya di Indonesia, membawa bahasa cetakan yang khas dengan figur-figur perempuan sebagai tokoh utamanya. Meliantha Muliawan menghadirkan karya keramik yang mengeksplorasi tubuh dan peran perempuan dalam ruang keluarga. Sekarputi Sidhiawati mengolah tekstil dan sulaman dengan detail yang mengundang kedekatan emosional. Adapun Dian Utami dan Theresia Agustina Sitompul melengkapi narasi lewat lukisan, karya tiga dimensi, hingga pengolahan benda temuan yang menciptakan dialog antara masa lalu dan masa kini.

Meski berangkat dari medium yang berbeda, kelima seniman bertemu pada titik yang sama: membongkar cara masyarakat menempatkan perempuan dalam struktur keluarga dan sosial. Keibuan dan masa kanak-kanak menjadi pintu masuk untuk membaca relasi kuasa yang paling halus, tetapi paling berpengaruh dalam membentuk cara kita memandang dunia.

Keibuan Bukan Sekadar Nostalgia

Dalam wacana seni rupa kontemporer Indonesia, tema keibuan kerap dianggap terlalu personal untuk dibawa ke ruang publik. Pameran ini justru menegaskan sebaliknya. Persoalan pengasuhan, beban ganda, hingga tekanan sosial yang menyertai peran ibu adalah isu struktural yang layak diperbincangkan secara terbuka, bukan hanya di dalam rumah.

"Karya-karya ini mengajak kita masuk ke ruang yang paling privat, lalu menyadari bahwa persoalan di dalamnya sesungguhnya dialami banyak orang. Dari situlah ruang bersama — commons — tercipta," ujar seorang pengamat seni rupa yang memantau jalannya pameran.

Pengamat seni rupa menilai pameran semacam ini merupakan bagian dari gelombang baru yang semakin serius menyoroti pengalaman perempuan di ranah kesenian. Jika sebelumnya karya bertema domestik kerap dipandang ringan dan dekoratif, kini karya semacam itu dibaca sebagai kritik sosial yang utuh, dengan kedalaman riset dan gagasan yang tidak kalah dari karya-karya bertema besar.

TemaPerwujudan dalam Pameran
DomestisitasBenda sehari-hari dan ruang rumah sebagai panggung
Identitas perempuanTubuh, peran, dan konstruksi sosial
Masa kanak-kanakIngatan, permainan, dan relasi keluarga
KeibuanPengasuhan, beban ganda, dan kasih sayang

Ruang Bersama yang Terus Tumbuh

Judul "As all gather in commons" sendiri sarat makna. Istilah "commons" merujuk pada ruang bersama milik publik, tempat berbagai kisah boleh hadir dan saling berdialog. Lewat karya kelima seniman, ruang privat perempuan diundang masuk ke ruang publik — untuk dilihat, diperbincangkan, dan pada akhirnya dipahami oleh lebih banyak orang.

Bagi penikmat seni, pameran ini menawarkan pengalaman yang dekat sekaligus menohok: dekat karena bahannya adalah keseharian, menohok karena di balik keindahan visual tersimpan pertanyaan-pertanyaan tentang peran, beban, dan harga diri perempuan. Pameran ini menjadi pengingat bahwa seni tidak selalu bicara tentang hal-hal besar — kadang justru dari hal paling kecil, paling rumah tangga, lahir gagasan yang paling dalam.

Dengan perpaduan lima seniman dan beragam medium, "As all gather in commons" memperkaya peta seni rupa kontemporer Indonesia yang terus memberi tempat bagi suara-suara perempuan. Pameran ini layak disaksikan, bukan hanya karena keindahan visualnya, tetapi karena setiap karyanya bercerita tentang kehidupan yang dekat dengan kita semua.

[SOCIAL_TWEET]: Pameran "As all gather in commons" menghadirkan karya lima seniman tentang perempuan, domestisitas, dan keibuan. Seni yang dekat dengan keseharian kita. #PameranSeni #SeniRupa[SOCIAL_TG]: Pameran "As all gather in commons" membawa cerita perempuan dan keibuan ke ruang bersama. Lima seniman, beragam medium, satu narasi tentang domestisitas.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
hendra-wijaya

Editor Politik. Mantan jurnalis cetak dengan spesialisasi politik elektoral. Menulis analisis kebijakan dan reportase parlemen.

Comments (0)

User