Antartika — Pemisahan Gondwana Picu Pembekuan, Ilmuwan Wanti-wanti Kiamat Es
Hamparan putih abadi yang menyelimuti Antartika menyimpan misteri jutaan tahun tentang bagaimana benua itu berubah dari hutan purba menjadi gurun es yang m
Hamparan putih abadi yang menyelimuti Antartika menyimpan misteri jutaan tahun tentang bagaimana benua itu berubah dari hutan purba menjadi gurun es yang memantulkan sinar matahari paling menyilaukan di Bumi. Di balik keheningan lapisan es setebal tiga kilometer itu, para ilmuwan akhirnya berhasil merangkai teka-teki: bukan hanya turunnya suhu global yang membekukan Kutub Selatan 34 juta tahun lalu, melainkan peristiwa geologis yang jauh lebih dramatis—perpisahan benua raksasa Gondwana.
Gondwana Pecah, Arus Laut Kunci Segalanya
Ketika lempeng benua Australia dan Amerika Selatan perlahan-lahan melepaskan diri dari Antartika, proses yang berlangsung selama jutaan tahun itu menciptakan jalur laut dalam yang belum pernah ada sebelumnya: Arus Sirkumpolar Antartika (ACC). Arus ini mengitari Antartika tanpa hambatan daratan, mengisolasi benua tersebut dari hangatnya perairan tropis. Efeknya seketika: Antartika kehilangan pasokan air hangat yang dulu menjaga pantainya tetap hijau, dan gletser mulai tumbuh tanpa henti.
"Pemisahan benua bukan sekadar cerita pergerakan daratan. Ini adalah saklar geologis yang secara fundamental mengubah sirkulasi samudra global. Begitu Australia bergerak cukup jauh ke utara, Arus Sirkumpolar Antartika terbentuk dan bertindak seperti parit termal raksasa yang mencegah panas mencapai Kutub Selatan," ujar Dr. Andre Müller, paleoseanografer dari Alfred Wegener Institute yang memimpin studi tersebut, dalam wawancara dengan Apaberita.com.
Penelitian Baru Menggeser Paradigma Iklim Purba
Selama ini, pembekuan Antartika di batas Eosen-Oligosen (sekitar 34 juta tahun silam) hampir selalu dijelaskan semata-mata oleh penurunan drastis konsentrasi karbon dioksida di atmosfer—dari sekitar 1.000 ppm ke bawah 600 ppm. Teori lama itu tidak sepenuhnya salah, tetapi temuan terbaru yang dimuat di jurnal Nature Geoscience pada Februari 2026 menunjukkan bahwa penurunan CO₂ saja tidak cukup untuk memicu glasiasi seluas itu.
Tim Müller menggunakan simulasi komputer beresolusi sangat tinggi yang merekonstruksi pergerakan lempeng tektonik, paleobatimetri (bentuk dasar laut purba), dan variabel iklim. Hasilnya mencengangkan: ketika simulasi hanya mempertimbangkan penurunan CO₂, es yang terbentuk di Antartika hanya sekitar sepertiga dari yang benar‑benar terjadi dalam catatan geologis. Hanya ketika model memasukkan pembukaan Drake Passage antara Antartika dan Amerika Selatan serta pembukaan Laut Tasman antara Antartika dan Australia, luas tutupan es melonjak mendekati realitas.
"Kami membangun model di mana CO₂ diturunkan secara bertahap, tetapi Arus Sirkumpolar belum terbentuk. Hasilnya: Antartika tetap lebih hangat beberapa derajat Celsius. Baru setelah Drake Passage terbuka, pendinginan mendadak terjadi dan es menyapu seluruh benua dalam waktu kurang dari 100.000 tahun—sekejap dalam skala geologi," jelas Dr. Müller.
Bukan Cuma Sejarah, Ini Peringatan untuk Hari Ini
Relevansi penelitian ini melampaui paleontologi. Jika pembentukan arus laut dingin di masa lalu menjadi pemicu utama pembekuan Antartika, maka perubahan arus laut akibat pemanasan global saat ini bisa menjadi pemicu kebalikannya: melelehnya lapisan es secara masif dan cepat. Saat ini, ACC sedang mengalami pergeseran kecepatan dan temperatur akibat penambahan air tawar dari gletser yang mencair. Ilmuwan khawatir, 'saklar' yang dulu membekukan Antartika kini justru bisa mempercepat keruntuhan esnya.
Kondisi Laut Amundsen di sisi barat Antartika, misalnya, telah menghangat lebih dari 0,5°C dibandingkan rata‑rata abad ke‑20, menggerogoti lapisan es dari bawah. Jika Gletser Thwaites—yang dijuluki 'Gletser Kiamat'—runtuh sepenuhnya, permukaan laut global naik sekitar 65 sentimeter. Dampak lanjutannya pada kota‑kota pesisir dunia, dari Jakarta Utara hingga Miami, akan menjadi bencana kemanusiaan yang sulit dibayangkan.
Saat Es Menyimpan Memo Kematian Peradaban
Di balik semua data dan simulasi, ada keheningan yang mencekam. Inti es yang dibor dari kedalaman 3,2 kilometer di Dome Fuji, Antartika Timur, menyimpan gelembung udara purba yang berbicara tentang betapa cepatnya Bumi bisa berubah jika ambang kritis terlampaui. Penelitian Müller dan timnya mengingatkan bahwa Bumi memiliki titik kritis yang tidak selalu terkait langsung dengan gas rumah kaca, melainkan dengan konfigurasi benua dan lautan yang bisa berubah dalam skala waktu geologis.
Kini, dengan laju perubahan iklim yang seratus kali lebih cepat daripada transisi Eosen‑Oligosen, pertanyaannya bukan lagi apakah Antartika akan kehilangan es dalam jumlah dahsyat, melainkan kapan dan seberapa cepat. Jawabannya mungkin tersimpan di bawah lapisan es yang diam-diam menyaksikan ulah manusia dari jarak jutaan tahun.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa yang menyebabkan Antartika membeku 34 juta tahun lalu?
Menurut penelitian terbaru, penyebab utamanya adalah pemisahan benua Gondwana yang memungkinkan terbentuknya Arus Sirkumpolar Antartika. Arus ini mengisolasi benua dari perairan hangat, memicu pembekuan massif yang tidak bisa dijelaskan oleh penurunan CO₂ saja.
Mengapa temuan ini dianggap sebagai ‘Tanda Kiamat Baru’?
Karena menunjukkan bahwa perubahan pola arus laut—serupa dengan yang terjadi saat ini akibat pemanasan global—dapat memicu perubahan dramatis pada lapisan es Antartika dengan kecepatan yang mengancam permukiman pesisir dunia.
Seberapa cepat Antartika bisa kehilangan es jika tren ini berlanjut?
Para ilmuwan memperkirakan bahwa dalam skenario emisi tinggi, Lapisan Es Antartika Barat bisa runtuh sebagian dalam abad ini, menaikkan permukaan laut global hingga 65 cm hanya dari satu gletser, dengan efek berantai yang bisa berlangsung selama berabad-abad.
Comments (0)