Analis Nilai Sanksi AS terhadap Iran Tak Akan Berhasil

JAKARTA — Analis politik independen Alex Alfirraz Scheers menilai sanksi terbaru Amerika Serikat (AS) terhadap Iran tidak akan berhasil mengubah kebijakan

Analis Nilai Sanksi AS terhadap Iran Tak Akan Berhasil

JAKARTA — Analis politik independen Alex Alfirraz Scheers menilai sanksi terbaru Amerika Serikat (AS) terhadap Iran tidak akan berhasil mengubah kebijakan Teheran. Penilaian itu disampaikan untuk menanggapi peringatan terbaru Presiden Donald Trump terkait perdagangan dengan Republik Islam Iran. Menurut Scheers, Washington justru telah kehilangan kredibilitas internasional, sehingga ancaman dan tekanan ekonominya kehilangan daya gentar di mata Teheran maupun komunitas global.

Peringatan Trump yang ditujukan kepada Iran dibaca Scheers sebagai kelanjutan dari pola kebijakan luar negeri AS yang mengandalkan tekanan maksimum. Namun, efektivitas instrumen sanksi semakin diragukan, terutama setelah bertahun-tahun blokade ekonomi yang dijatuhkan Washington dinilai tidak mampu menggulingkan pemerintahan di Teheran ataupun memaksa Iran menyerah pada tuntutan yang diajukan.

Kredibilitas AS yang Terkikis di Mata Dunia

Menurut Scheers, keberhasilan sebuah sanksi tidak ditentukan semata-mata oleh besarnya tekanan ekonomi, melainkan oleh legitimasi dan konsistensi negara yang menjatuhkannya. Ketika AS kerap mengubah sikap dan mengabaikan komitmen internasional, pesan moral di balik sanksi ikut melemah. Iran, dalam konteks ini, justru memanfaatkan narasi kredibilitas tersebut untuk membangun solidaritas dengan negara-negara yang menolak dominasi Washington.

"Sanksi hanya akan berhasil jika Amerika masih dipandang sebagai pihak yang kredibel dan konsisten. Ketika narasi Washington telah kehilangan kepercayaan, tekanan ekonomi justru memperkuat resistensi Teheran dan menggalang dukungan dari negara-negara lain," demikian analisis yang disampaikan Scheers.

Sejarah Panjang Tekanan dan Kegagalan Mencapai Target

Selama beberapa dekade, AS telah menjatuhkan berbagai gelombang sanksi terhadap Iran, mulai dari embargo perdagangan, pembekuan aset, hingga pembatasan pada sektor energi dan keuangan. Namun, hasilnya kerap jauh dari target yang dicanangkan Washington. Iran justru mengembangkan jalur perdagangan alternatif, mempererat kemitraan ekonomi dengan sejumlah negara di Asia, serta memanfaatkan mekanisme pembayaran non-dolar untuk menghindari dampak blokade.

Pola sanksi yang berulang dan hasil yang relatif stagnan memperkuat argumen Scheers bahwa pendekatan tekanan maksimum telah usang. Alih-alih mengisolasi Teheran, kebijakan tersebut justru mendorong Iran untuk membangun ketahanan ekonomi domestik dan mencari mitra dagang baru. Dalam jangka panjang, efektivitas sanksi justru bergantung pada kesediaan seluruh komunitas internasional untuk ikut serta, dan hal itu semakin sulit dicapai.

Dampak bagi Timur Tengah dan Pasar Energi

Ketegangan yang terus meningkat antara Washington dan Teheran membawa konsekuensi yang lebih luas. Pasar energi global berada dalam posisi sensitif karena Iran menguasai jalur pelayaran strategis di kawasan Teluk Persia. Setiap eskalasi baru berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan ketidakpastian bagi negara-negara importir, termasuk Indonesia.

Selain itu, sikap AS yang dinilai tidak konsisten ikut memengaruhi peta diplomasi kawasan. Sejumlah negara yang sebelumnya ragu kini semakin terbuka menjalin hubungan dagang dengan Teheran, sementara ruang untuk negosiasi multilateral justru menyempit. Kondisi ini menciptakan lingkaran ketegangan yang sulit diputus, di mana setiap ancaman baru hanya melahirkan respons balasan yang lebih keras.

Instrumen TekananTujuan WashingtonKenyataan di Lapangan
Embargo perdaganganMenekan perekonomian IranIran mengembangkan mitra dagang alternatif
Pembatasan sektor keuanganMemutus akses pembiayaan globalMuncul mekanisme pembayaran non-dolar
Ancaman dan peringatan baruMenekan Iran berundingResistensi Teheran justru menguat

Diplomasi sebagai Jalan Keluar

Scheers menilai bahwa solusi jangka panjang atas persoalan ini tidak akan ditemukan melalui sanksi yang semakin berat, melainkan melalui diplomasi yang inklusif dan saling menghormati. Pendekatan yang hanya mengandalkan tekanan ekonomi dinilai tidak akan mengubah perilaku Teheran secara fundamental, justru berisiko memperdalam jurang permusuhan dan mengancam stabilitas kawasan yang lebih luas.

Bagi negara-negara seperti Indonesia yang berkepentingan terhadap stabilitas Timur Tengah dan keterjangkauan harga energi, perkembangan ini perlu dicermati secara saksama. Ketegangan yang berlarut-larut tidak hanya menjadi persoalan bilateral AS–Iran, tetapi juga menentukan arah ekonomi global dalam beberapa tahun ke depan. Dunia, pada akhirnya, akan terus menguji apakah Washington benar-benar mampu memulihkan kredibilitasnya atau justru semakin kehilangan pengaruh.

[SOCIAL_TWEET]: Analis nilai sanksi AS terhadap Iran tak akan berhasil: kredibilitas Washington sudah terkikis. Tekanan ekonomi justru memperkuat resistensi Teheran. #Geopolitik #SanksiAS #Iran[SOCIAL_TG]: 📉 Analis: sanksi AS terhadap Iran gagal total, kredibilitas Washington tinggal narasi. Baca analisis lengkapnya di Apaberita.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bagus-nugroho

Reporter Kebijakan Publik. Fokus pada APBN, otonomi daerah, dan reformasi birokrasi.

Comments (0)

User